Karya Naskah, Poster, dan Film Drama Kelas XI - A (SMA Ign. Slamet Riyadi Karawang)

 AHLI WAHANA DARI CERPEN MENJADI NASKAH DRAMA

 Drama Batu Menangis


Judul: "Batu Menangis: Ulang Takdir"

Tokoh:

  • IBU MAYA (REISHI)

  • NARA (YMEI)

  • DINA (KANIA)

  • IBU SARI (RERE)

  • NARATOR (MEISYA)

  • PEMUDA 1 (JASON)

  • PEMUDA 2 (ARJUNA)

  • PEMUDA 3 (MALVIN)


PROLOG – DI RUANG TAMU

(Lampu hangat. Ibu dan Anak duduk di sofa. Anak memegang ponsel, Ibu membawa buku cerita lama.)

IBU MAYA :
Kamu tau nggak, Nak... dulu ada cerita yang sering Ibu dengar. Tentang seorang gadis yang durhaka pada ibunya.

NARA :
Batu Menangis ya, Bu? Yang viral itu? Versi jadul banget.

IBU MAYA : (tersenyum)
Iya... tapi ceritanya nggak pernah basi. Mau dengar?

NARA :
Hmm... oke, Bu. Ceritain deh sebelum tidur.

(Lampu perlahan redup. Suara musik lembut. Panggung berubah.)


(Suara bergema pelan, seperti dongeng lama.)

NARATOR :
Alkisah, di sebuah kota yang sibuk dan penuh hiruk pikuk modern, hiduplah seorang gadis bernama Dina. Ia cantik,

pintar, namun hatinya perlahan mengeras karena gengsi dan rasa malu pada ibunya sendiri.

Ia lupa bahwa kasih seorang ibu tak pernah meminta balasan, hanya ingin dicintai dan dihargai...


ADEGAN 1 – DUNIA BATU MENANGIS

(VERSI MODERN RINGAN)

(Setting masih desa, tapi dengan sentuhan modern. Ada kaca meja rias, skincare, dan ponsel.)

NARATOR :
Alkisah, di sebuah perbukitan yang jauh dari kota di daerah Kalimantan, hiduplah seorang janda miskin

bersama anak gadisnya bernama DINA.DINA sangat cantik, tapi sayangnya sikapnya jauh dari kata baik.

Ia pemalas, jarang membantu ibunya, dan lebih sibuk merawat penampilannya

daripada peduli pada keadaan keluarga.


(Di dalam kamar. Dina sibuk di depan cermin, memakai lulur dan skincare.)

DINA :
"Ibuuuu!" (nada tinggi)

IBU SARI : (bergegas masuk)
Iya, Nak?

DINA :
"Bukannya aku sudah sering bilang? Kalau aku bangun, kamar harus sudah rapi.

Lulur, air hangat, sama minuman juga harus siap!"

IBU SARI : (lembut)
Kamu kan sudah besar, Darmi. Kamu bisa kerjakan sendiri...

DINA :
Aduh, Bu... aku lagi sibuk. Nanti kulitku rusak lagi.

(Ibu hanya terdiam, menghela napas.)


(Pagi hari. Ibu bersiap pergi ke sawah.)

IBU SARI :
Darmi, ikut bantu Ibu ke sawah ya, Nak.

DINA :
Nggak dulu deh Bu. Panas, debu pula. Kuku aku bisa rusak.

IBU SARI : (iba)
Kasihanilah Ibu, Nak...

DINA:
Aku lagi dandan, Bu...

(Ibu pergi sendiri.)


(Sore hari, Ibu pulang dengan wajah lelah.)

IBU SARI :
Ibu pulang...

DINA : (langsung menghampiri)
Uangnya mana, Bu?

(Dina mengambil uang dari tangan ibunya.)

DINA :
Nah, ini dia. Bedakku habis, mesti beli baru.

IBU SARI :
Jangan, Nak... itu buat beli beras.

DINA :
Ya harus diprioritaskan dong penampilan juga!

IBU SARI : (sedih)
Kamu cuma bisa minta, tapi nggak pernah mau bantu.


(Hari berikutnya, hal yang sama terus terulang.)

DINA :
Bu, uangnya mana lagi?

IBU SARI :
Nak... coba sesekali bantu Ibu. Ibu sudah tua...

DINA : (ketus)
Siapa juga yang suruh jadi orang miskin? Aku juga nggak pernah minta lahir dari Ibu.

(Ibu terdiam, menahan tangis.)

IBU SARI :
Ibu cuma minta satu... jangan terus mengurung diri. Kenalilah dunia luar, Nak.

(Dina akhirnya setuju dengan satu syarat.)

DINA :
Oke, aku mau ikut. Tapi jangan bilang ke siapa-siapa kalau Ibu itu ibuku.

(Ibu mengangguk, meski hatinya perih.)


(Di desa / pasar. Dina tampil cantik, penuh percaya diri. Orang-orang memandang.)

PEMUDA 1 :
Cantik banget ya dia...

PEMUDA 2 :
Kayak artis desa!

PEMUDA 3 :
Tapi yang di belakangnya siapa?

PEMUDA 1 : (mendekat)
Hai, cantik. Itu siapa yang jalan di belakangmu? Ibumu ya?

DINA : (angkuh)
Bukan. Dia cuma pembantu.

PEMUDA 2 :
Yakin? Kasihan sekali kelihatannya...

DINA : (membentak)
Sudah! Dia itu bukan siapa-siapa!

(Dina mendorong Ibunya hingga hampir jatuh.)

PEMUDA 3 :
Hei! Jangan kasar begitu!

(Ibu memungut barang-barangnya, wajahnya penuh luka batin.)


IBU SARI : (menangis, berdoa)
Ya Tuhan... jika ini memang anak kandung hamba,

mengapa ia setega ini... Hukumlah ia atas kedurhakaannya...

(Langit menggelap. Suara gemuruh.)

DINA : (panik)
Ibu... kenapa kakiku berat?

(Kakinya mulai membatu.)

DINA : (menangis)
Ibu... maafkan aku... ampuni aku...

IBU SARI : (terisak)
Maafkan Ibu, Nak...

DINA :
Ibuuuuuuu!!!

(Tubuh Dina sepenuhnya berubah menjadi batu. Tangis menggema.)

NARATOR :
Sejak saat itu, batu yang menyerupai sosok gadis dengan air mata yang tak berhenti menetes

disebut masyarakat sebagai Batu Menangis.

KEMBALI KE RUANG TAMU

(Lampu kembali ke ruang tamu. Anak terlihat terdiam.)

NARA :
Sedih banget ya, Bu... Masa harus berakhir kayak gitu sih?

IBU MAYA :
Itulah akibat dari durhaka pada orang tua.

NARA :
Tapi... bisa nggak ya kalau ceritanya diubah? Jadi nggak seseram itu.

IBU MAYA : (tersenyum lembut)
Kalau kamu yang bisa mengubahnya, bagaimana endingnya?

NARA : (mengantuk)
Aku pengen Dina sadar... sebelum terlambat...

(Anak tertidur. Lampu redup. Efek suara angin lembut.)


ADEGAN 2 – ANAK MASUK KE DALAM CERITA

(Anak terbangun di panggung dunia Batu Menangis. Dina masih dalam sikap kasar.)

NARA :
Hah? Ini... dunia ceritanya?

DINA :
Hahhhh, siapa kamu? Ngapain kamu di sini!

NARA :
Aku datang buat ngubah takdir kamu.

DINA : (tertawa sinis)
Ngapain peduli sama hidup aku?

NARA :
Karena suatu hari nanti, kamu bakal nyesel. Dan penyesalan itu sakit banget.

(Ibu Dina jatuh karena kelelahan.)

NARA : (tegas)
Lihat ibumu! Dia satu-satunya yang selalu ada!

(FLASHBACK perilaku Dina selama ini)

DINA : (terdiam, melihat Ibunya)
Ibu...

IBU SARI :
Ibu nggak butuh apa-apa, Nak... cuma ingin kamu bahagia...

(Dina mulai menangis.)

DINA :
Maafin Dina, Bu... Dina keterlaluan...

(Langit kembali cerah. Cahaya lembut menyinari mereka.)


ADEGAN 3 – HAPPY ENDING

DINA : (memeluk ibunya)
Mulai sekarang, Dina janji berubah. Dina nggak akan malu lagi punya Ibu seperti ini.

IBU SARI : (tersenyum bahagia)
Yang penting kamu sadar, Nak.

NARA : (tersenyum puas)
Akhirnya...

(Suara musik ceria.)


EPILOG – KEMBALI KE DUNIA NYATA

(Anak terbangun di sofa. Ibu masih di sampingnya.)

IBU MAYA :
Kamu ketiduran, Nak.

NARA :
Bu... aku mimpi masuk ke cerita itu. Dan aku ubah Dina jadi anak yang baik.

IBU MAYA :
Mungkin itu bukan cuma mimpi. Tapi pesan.

NARA : (tersenyum dan memeluk ibunya)
Makasih ya, Bu... udah selalu sabar sama aku.

IBU MAYA :
Ibu selalu di sini, Nak.

(Lampu perlahan padam. Musik penutup.)


PESAN MORAL:

"Kasih ibu tidak pernah habis, bahkan ketika hati anak mulai lupa. Perubahan selalu bisa terjadi,

selama ada kesadaran dan cinta."



KARYA POSTER PROMOSI FILM
















KARYA FILM DRAMA



















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karya Cerpen Siswa Kelas XI SMA Ignatius Slamet Riyadi Karawang