Karya Cerpen Siswa Kelas XI SMA Ignatius Slamet Riyadi Karawang

Karya cerpen (cerita pendek) ini dibuat oleh perwakilan kelas XI-A, XI-B, dan XI-C. Karya ini juga dibuat sebagai karya kumpulan buku antalogi cerpen yang diharapkan dapat bermanfaat kepada siapapun yang membacanya.

KARYA KELAS XI-A (Reishi, Ivana, dan Jason)



Empat Kompas, Satu Tujuan


Di tengah istana megah dengan pagar besi yang membentang, hanya ada satu pohon tua dan seorang anak perempuan yang sedang duduk di bawahnya sambil membaca buku. Anak perempuan itu dikenal dengan nama Celestia. Celestia dikenal sebagai putri satu-satunya yang mewarisi tahta kerajaan Celestine. Celestia atau Celes dikenal sebagai gadis yang ramah dan penuh kehangatan terhadap seluruh anggota kerajaan. 


Di bawah naungan pilar-pilar marmer Kerajaan Celestine yang berkilau, langkah kaki yang tegap namun tenang mulai terdengar membelah keheningan aula. Muncul sosok Prince Charles Harrington yang dikenal sebagai putra pewaris takhta dari kerajaan Harrington, Charles kecil, yang saat itu baru saja dianugerahi gelar Young Lord, tampak sedang membaca buku sambil berjalan, tidak menyadari bahwa ia sedang menuju ke arah pohon tua tempat Celes berada. Masa kecil mereka adalah bagian dari kebahagiaan yang murni. Tidak hanya Celes dan Charles, tapi  Arthur Throne, pangeran dari Rose Throne yang bijaksana, dan Beatrix, putri dari Bellavire yang lincah dan berani. Keempatnya tumbuh bersama, menganggap empat kerajaan tersebut sebagai satu rumah masing masing. Namun, kebersamaan itu berakhir saat konflik wilayah yang memecah persatuan mereka menjadi empat kerajaan. 


Saat pesta yang diadakan di wilayah Rose Throne, Lampu yang terbuat dari kristal yang sangat silau dan aroma menyengat bunga mawar yang membuat suasana di istana menjadi lebih indah dan berwarna. Putri Celes terlihat sangat anggun dengan mengenakan gaun berwarna merah muda. Di pesta Rose Throne itulah yang mempertemukan Celes kembali dengan Charles Harrington. Namun, Charles kini bukan lagi bocah pemalu yang suka menghabiskan waktu membaca, Charles telah berkembang menjadi seorang pria yang tegas, dominan, dan penuh dengan sebuah misteri, itu menggambarkan sosok pria red flag yang sangat disegani oleh banyak orang. Di sisi lain aula, Putri Celes mengamati Arthur Throne yang sangat sangat berwibawa di tengah acara yang sedang menerima tamu. Namun, perhatiannya berpindah kepada seorang gadis berambut pendek yang mengenakan pakaian formal yang terlihat lebih biasa aja tidak terlalu menarik. Gadis itu adalah Beatrix. Putri Tomboy dari Bellavire. Ketegangan di aula pesta itu terasa begitu pekat seolah udara tiba- tiba menipis saat Charles Harrington melangkah mendekati Celes dengan tatapan yang mengintimidasi. Namun, sebelum sepatah kata pun terucap, sebuah ledakan keras menghantam gerbang utama istana Rose Throne. Kaca-kaca kristal pun pecah berhamburan dan jeritan histeris mulai memecah keanggunan malam itu. 


Asap tebal mulai memenuhi ruangan, menciptakan labirin abu-abu yang membingungkan. Di tengah kepanikan itu, Charles justru berdiri diam dengan tenang, sorot matanya yang misterius seakan menikmati kekacauan yang terjadi, membuatnya tampak semakin berbahaya. Celes yang membeku ketakutan tiba-tiba merasakan sebuah tangan yang kuat dan tangkas menyambar lengannya.


“Jangan melamun! Kita harus keluar dari sini!" Suara itu rendah namun penuh otoritas.


Tanpa sempat menjawab, Celes ditarik paksa. Gadis yang menariknya bergerak dengan ketangkasan seorang prajurit. Mereka menerjang kerumunan, melompati meja-meja yang terbalik, dan menyelinap melalui pintu pelayan yang tersembunyi. Mereka berlari menembus taman istana yang luas, melewati pagar besi yang dulu sering mereka panjat saat kecil, dan terus melaju menuju kegelapan danau yang sunyi. Mereka terus berlari, melewati danau yang tenang namun mencekam, hingga sampai ke tepian hutan yang sangat suram dan hutan tersebut dijuluki “Rimba Atma” yang berarti Hutan Jiwa, di mana konon roh leluhur keempat kerajaan berkumpul.


Langkah kaki mereka bergema di atas tanah yang lembab. Celes merasa paru-parunya terbakar, namun gadis di depannya tidak lambat sedikit pun. Mereka terus berlari hingga cahaya istana memudar, digantikan oleh bayang-bayang pohon raksasa yang seolah-olah ingin menelan mereka. Inilah Hutan “Rimba Atma” hutan terbesar yang terletak tepat di titik pertemuan perbatasan empat kerajaan yaitu kerajaan Celestine, Bellavire, Rose Throne, dan Harrington. ​Setelah merasa cukup jauh, gadis itu akhirnya melepaskan cengkeramannya. Celes jatuh terduduk di atas akar pohon besar, berusaha mengatur nafasnya yang tersengal-sengal. Di bawah sinar rembulan yang menembus celah dedaunan, ia mendongak untuk menatap penyelamatnya. ​Gadis itu berdiri tegak, menyugar rambut pendeknya yang sedikit berantakan karena berlari. Ia mengenakan pakaian formal yang kini terkena noda tanah, namun matanya memancarkan keberanian yang luar biasa.


​"Kau... kau siapa? Kenapa kau membantuku?" tanya Celes dengan suara bergetar.


​Gadis itu terdiam sejenak, lalu sedikit membungkuk untuk menyamakan tinggi mereka. Sebuah seringai kecil muncul di wajahnya. "Dulu kau selalu menangis jika aku tidak membantumu turun dari pohon, Celes. Ternyata sepuluh tahun tidak mengubahmu sama sekali."


​Mata Celes membelalak. Ingatan masa kecilnya berputar kembali tentang seorang gadis kecil yang selalu membawa pedang kayu dan menolak memakai gaun. "Beatrix…ini benar-benar kau…? aku benar-benar tidak menyangka akan bertemu denganmu dalam situasi seperti ini. Kau menyelamatkanku.” 


Gadis berambut pendek itu berbalik. Ia tidak berdiri dengan tegak seperti prajurit, melainkan sedikit membungkuk dan menumpukan tangannya di lutut. Ia terengah-engah, wajahnya cemong karena jelaga asap.


"Beatrix? Bea... ini kau?"


​Beatrix tersenyum lebar, menunjukkan giginya yang putih. 


"Siapa lagi kalau bukan aku? Memangnya kau pikir pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkanmu? Maaf ya, yang ada hanya aku, si Putri Bellavire yang paling keren sedunia!"


​Celes langsung menghambur memeluk Beatrix.


"Aku merindukanmu! Aku pikir kau sudah lupa padaku!"

​"Aduh, aduh! Jangan kencang-kencang peluknya, aku tidak bisa napas!" 


Beatrix tertawa, menepuk-nepuk punggung Celes dengan ceroboh.


"Lagian, bagaimana aku bisa lupa pada sahabat yang dulu sering kusembunyikan sepatunya di atas pohon?"


​Tawa kecil mereka pecah di tengah hutan yang sunyi. Sesaat, mereka melupakan bahwa kerajaan mereka sedang bersitegang. Namun, tawa itu terhenti saat sesosok bayangan tinggi muncul dari balik kegelapan.


​"Pertunjukan yang sangat menyentuh," 


suara itu dingin, tajam, dan penuh otoritas. ​Charles Harrington melangkah keluar dari kabut hutan. Ia terlihat sangat rapi, seolah-olah ledakan di istana tadi tidak memengaruhi penampilannya sama sekali. Ia menatap Celes dengan tatapan yang intens, sebuah tatapan yang membuat Celes merasa kecil namun sekaligus diinginkan. 

 

​"Charles..." Celes berdiri, memegang ujung baju Beatrix. ​"Kemarilah, Celestia," perintah Charles. Ia tidak meminta, ia memerintah.


"Hutan ini berbahaya, dan Putri Bellavire ini jelas tidak punya rencana apa pun selain berlari tanpa tujuan. Harrington adalah tempat yang lebih aman untukmu.”


Beatrix langsung berdiri di depan Celes, refleks seperti dulu saat mereka masih kecil. Tangannya sedikit terangkat, bukan untuk menyerang, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh sahabatnya.


“Masih saja hobi mengatur hidup orang lain ya, Charles?” ucap Beatrix ringan, tapi sorot tajam matanya tidak pernah terlepas dari Charles. “Sekian tahun berlalu, ternyata sifat posesifmu tidak pernah berubah.”


“Kau masih saja sembrono, Beatrix. Tidak heran Bellavire selalu dipandang lemah dalam diplomasi.”


Celes bisa merasakan udara di antara mereka menegang. Bukan hanya karena situasi barusan, tapi karena sejarah panjang empat kerajaan yang tak pernah benar-benar sembuh.


“Apa yang sebenarnya terjadi di istana tadi, Charles?” tanya Celes pelan.


Belum sempat Charles menjawab pertanyaan Celes, suara lain terdengar dari balik pepohonan.


“Ledakan itu bukan kecelakaan.”


Tiga pasang mata langsung menoleh bersamaan.


Dari kegelapan Rimba Atma, muncul seorang pria tinggi dengan jubah kebesaran Rose Throne yang tersapu angin malam. Langkahnya tenang, terukur, namun penuh wibawa. Rambutnya tertata rapi, sorot matanya tajam namun tidak mengintimidasi  justru menenangkan.


Arthur Throne.


Pangeran Rose Throne yang dulu selalu menjadi penengah setiap kali Celes dan Beatrix bertengkar, dan satu-satunya yang berani menegur Charles tanpa rasa takut.


Arthur…” bisik Celes hampir tak percaya.


Arthur berhenti beberapa langkah dari mereka. Tatapannya menyapu wajah ketiga sahabat lamanya, memastikan mereka benar-benar selamat sebelum akhirnya melanjutkan ucapannya.


“Itu serangan yang direncanakan. Penjaga menemukan lambang kuno di gerbang istana setelah ledakan terjadi.”


Beatrix mengernyit. “Lambang apa?”


Arthur menatap mereka satu per satu, suaranya merendah. 


“Lambang Aliansi Empat Kompas.”


Jawaban dari Arthur membuat empat orang yang kini berdiri disana itu berdiam sejenak.


“Apa kau sudah gila? Mana mungkin Aliansi Empat Kompas melakukan hal seperti ini,” Ucap Charles dengan penuh keraguan.


Tidak hanya Charles, bahkan Beatrix dan Celestia juga tampak ragu terhadap jawaban Arthur. Aliansi Empat Kompas telah dibentuk dari dahulu kala untuk memastikan keempat kerajaan dapat hidup dengan damai dan berdampingan. Seiring bertumbuhnya Celestia, Beatrix, Charles, dan Arthur, mereka sudah diperkenalkan dengan Aliansi Empat Kompas dan sistem bagaimana Aliansi Empat Kompas bekerja. Aliansi itu adalah simbol persatuan empat kerajaan sebelum terpecah. Lambang yang sudah puluhan tahun tidak pernah digunakan lagi. Lambang yang hanya ada di buku sejarah dan kenangan masa kecil mereka.


“Itu tidak mungkin…” bisik Celes.


“Justru itu,” jawab Arthur. “Seseorang ingin membangkitkan masa lalu. Tapi bukan untuk menyatukan kita… melainkan untuk mengulang konflik yang dulu memecah kita.”


Charles melangkah mendekat, kini berdiri sejajar dengan Arthur.

“Jika apa yang Arthur katakan itu sebuah kebenaran, maka orang itu tahu persis bahwa malam ini kita semua akan berada di satu tempat.”


“Ini bukan tentang pesta dansa,” ucapnya Celes pelan. “Ini tentang kita berempat.”


Beatrix mengangguk pelan. “Seseorang ingin kita bertemu.”


Arthur menatap hutan di belakang mereka, tepat ke arah terdalam Rimba Atma.

“Karena hanya di hutan ini… batas empat kerajaan benar-benar hilang.”


Rimba Atma bukan hanya hutan biasa. Itu adalah titik pusat peta kuno. Tempat di mana dulu para pendiri kerajaan membuat sumpah persatuan. Sekarang, tanpa direncanakan, empat pewaris takhta berdiri tepat di titik yang sama. Angin berhembus lebih kencang. Pepohonan tinggi berderit pelan. Lalu dari kejauhan, terdengar suara gemuruh rendah dari dalam hutan. Bukan suara hewan. Bukan angin. Tanah di bawah kaki mereka bergetar halus.


Arthur langsung berwaspada dan memegang pedangnya. “Kita tidak bisa berdiri di sini. Sesuatu bergerak di dalam hutan.”


Charles menatap ke arah suara itu tanpa rasa takut sedikitpun. Lain dari itu, justru tatapannya tampak mengenali.


Sebelum mereka melangkah pergi, Beatrix membuka mulutnya “Tunggu, jadi ini semua bukan hanya sebatas terror?”


“Bukan” Arthur menjawab, “Ini terasa seperti undangan,” lanjutnya dengan penuh kebingungan.


“Kurasa apa yang dikatakan Arthur ada benarnya, seseorang seakan-akan mengumpulkan kita disini untuk mencari tahu sesuatu atau melihat sesuatu” Ucap Celestia.


“Masuk akal, tapi mengapa hutan ini?” Tanya Charles yang tak pernah memalingkan pandangannya dari arah sisi kegelapan hutan.


Arthur menatap hutan di belakang mereka, tepat ke arah terdalam Rimba Atma.

“Karena hanya di hutan ini… batas empat kerajaan benar-benar hilang.”


Rimba Atma bukan hanya hutan biasa. Itu adalah titik pusat peta kuno. Tempat di mana dulu para pendiri kerajaan membuat sumpah persatuan. 


Arthur melangkah mendekati sebuah batu besar yang tertutup lumut. Ia menyibakkan tanaman rambat yang menutupinya. Di bawah cahaya bulan, tampak ukiran lambang yang sama, Empat Kompas terpahat jelas di permukaan batu.


Beatrix membeku. “Ini… ini tempat sumpah itu, ya?”


Celes menatap ukiran itu dengan napas tertahan. Tiba-tiba potongan ingatan masa kecilnya muncul. Mereka pernah bermain di sini. Orang tua mereka pernah berdiri di tempat ini. Arthur berbicara pelan, namun setiap katanya terasa berat.


“Di sinilah, dua puluh tahun lalu, para raja dan ratu dari empat kerajaan bersumpah untuk bersatu. Dan di tempat yang sama inilah… sumpah itu dikhianati.”


Charles menoleh tajam. “Dikhianati?”


Arthur pun mengangguk dengan pelan, Wajahnya terasa lebih tua tetapi usianya masih  relatif muda saat ia menatap ukiran batu yang telah tergerus oleh waktu. "Ayahku menyimpan dokumen rahasia di perpustakaan terlarang Rose Throne." Catatan itu menyebutkan bahwa perpecahan sepuluh tahun lalu bukan karena sengketa wilayah semata. Ada sebuah perjanjian yang dilanggar, sebuah pengkhianatan yang melibatkan salah satu dari orang tua kita."


Mendengar hal tersebut suasana di sekitar Rimba Atma terasa dingin. Kabut mulai naik dari permukaan tanah, melilit pergelangan kaki mereka seperti jari-jari hantu. Celes merasakan ketakutan yang merayap, namun ia juga merasakan sebuah dorongan untuk mencari kebenaran. Ia menatap Charles yang masih berdiri tegak dengan ekspresi yang sulit dibaca.


"Apa kau tahu sesuatu tentang ini, Charles?" tanya Celes, suaranya hampir menyerupai bisikan.


Charles tidak langsung memberikan jawaban. Ia melangkah mendekati batu itu, jarinya yang panjang mengelus ukiran kompas yang menjadi simbol dari Kerajaan Harrington. "Ayahku selalu mengatakan bahwa kebaikan adalah kelemahan, dan persatuan hanyalah ilusi untuk menyembunyikan pisau di balik punggung. Jika ada pengkhianatan, aku tidak terkejut jika Harrington adalah pelakunya atau justru korbannya."


Tiba-tiba, sebuah getaran di bawah tanah sangat kuat. Suara gemuruh yang tadi terdengar dari jauh kini seolah berada tepat di bawah kaki mereka. Dari celah-celah akar pohon purba, cahaya biru redup mulai berpendar.


"Semuanya, menjauh dari batu itu!" teriak Beatrix sambil menarik bahu Celes.


Batu besar itu bergerak secara mekanis, memperlihatkan sebuah lorong tangga yang tiba tiba terbuka menuju kedalaman bumi. Dari dalam lorong tersebut, tercium bau buku tua, debu, dan sihir kuno yang sangat kuat. Ini lebih dari sekadar tempat untuk bersumpah. Ini adalah ruang penyimpanan yang sudah terlupakan.

Mereka berempat menuruni tangga batu yang licin. Arthur memimpin di depan, diikuti oleh Beatrix yang menjaga Celes, sementara Charles berjalan di paling belakang, bertindak sebagai pelindung sekaligus pengamat yang diam.

Di dasar tangga, mereka menemukan  aula bundar dengan empat pintu besar yang masing-masing memiliki lambang kerajaan mereka. Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja bundar dari marmer dengan peta empat kerajaan yang masih utuh peta saat mereka masih bersatu.

"Lihat ini," Celes menunjuk kotak perak di tengah meja marmer kuno. "Hanya empat pewaris yang bisa membukanya secara bersamaan."

Tanpa ragu, masing-masing mengeluarkan benda pusaka yang mereka bawa. Charles dengan cincin stempelnya, Arthur dengan liontin mawar, Beatrix dengan lencana pengikat rambutnya, dan Celes dengan permata biru dari tiaranya. Begitu keempatnya terpasang, kotak terbuka, menampakkan perkamen kuning yang mengungkap kebenaran pahit.

Arthur membacanya. "Persatuan kita hancur bukan karena kebencian, tapi karena rasa takut akan ramalan pengkhianatan. Kita dipisahkan oleh musuh yang memanipulasi ketakutan itu."

Tiba-tiba, tawa yang dingin bergema. Dari balik bayang-bayang muncul Penasihat Agung Rose Throne. Ia mengaku sebagai dalang di balik ledakan pesta, berniat melenyapkan para pewaris agar bisa menguasai takhta sendirian.

Charles langsung melangkah maju melindungi Celes, memancarkan aura dominan yang kini terasa sebagai benteng pelindung. Beatrix menghunus belati, tak gentar pada ancaman. Meski sang pengkhianat adalah penyihir kuat, ia meremehkan satu hal, ikatan masa kecil mereka yang kembali pulih. Arthur memimpin strategi, Beatrix menyerang dengan lincah, dan Charles menggunakan kekuatan fisiknya untuk memojokkan lawan.

"Hancurkan kristal di tongkatnya!" seru Celes yang menyadari sumber kekuatan sihir itu. Dengan koordinasi sempurna, Beatrix menendang tongkat tersebut dan Arthur menebas kristalnya hingga hancur berkeping-keping.

Setelah pengkhianat dilumpuhkan, mereka kembali ke permukaan hutan saat fajar bersinar. Di tepi danau yang tenang, ketegangan politik selama sepuluh tahun seolah menguap.

"Kita harus membersihkan sisa pengkhianat di kerajaan masing-masing. Bersama," tegas Arthur.

Charles menatap Celes dengan intensitas yang lebih lembut. "Aku akan mengantarmu pulang, Celes. Jangan harap kau bisa lepas dariku setelah ini." Celes tersenyum, ia tahu di balik sifat red flag pria itu, ada kesetiaan yang tulus. Beatrix tertawa sambil merangkul mereka, berjanji akan sering berkunjung demi menjaga Celes.

Beberapa minggu kemudian, gerbang besi Kerajaan Celestine tidak lagi tertutup rapat. Di bawah pohon tua yang sama, Celes kini tidak lagi membaca sendirian. Charles duduk di sampingnya, sementara Beatrix dan Arthur berlatih pedang kayu di dekat mereka.

Luka sepuluh tahun itu mulai sembuh. Rimba Atma kini menjadi simbol harapan, bukan lagi kegelapan. Bagi keempatnya, masa depan bukan lagi tentang tahta yang harus dipertahankan, melainkan tentang janji persahabatan yang kembali bersemi dari akar yang paling dalam.

Celes menutup bukunya perlahan, menatap halaman terakhir sebelum mengangkat wajahnya ke arah Charles.

“Dulu aku pikir, menjadi putri berarti harus selalu kuat sendirian,” ucapnya pelan. “Ternyata yang membuatku kuat… justru karena aku tidak sendiri.”

Charles tersenyum tipis. “Kau memang keras kepala sejak kecil, Celes. Selalu ingin memikul semuanya sendiri.” Ia menatap ke arah Rimba Atma yang terlihat dari kejauhan. “Tapi mungkin memang itu yang membawa kita kembali ke sini.”

Tak jauh dari mereka, suara kayu beradu terdengar lagi.

Arthur! Kau curang!” seru Beatrix sambil menahan tawa. “Itu bukan gerakan yang kita sepakati!”

Arthur menurunkan pedangnya, mengangkat bahu santai. “Di medan perang tidak ada kesepakatan, Putri Bellavire.”

Beatrix mendengus, lalu menoleh ke arah Celes dan Charles. “Kalian lihat? Dia mulai merasa paling benar lagi.”

Celes tersenyum hangat. “Biarkan saja. Setidaknya sekarang ia berlatih pedang, bukan berlatih menyimpan dendam.”

Arthur tertawa kecil mendengar itu. Ia berjalan mendekat bersama Beatrix, keringat membasahi pelipis mereka.

“Sepuluh tahun,” gumam Arthur pelan. “Rasanya aneh memikirkan bahwa kita menghabiskan waktu selama itu untuk saling menjauh.”

Beatrix menatap ketiganya satu per satu. “Dan hanya butuh beberapa hari di Rimba Atma untuk menyadarkan kita.”

Charles mengangguk. “Karena di sana kita tidak lagi melihat tahta. Kita hanya melihat satu sama lain.”

Hening sejenak menyelimuti mereka, bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Burung-burung kecil bertengger di dahan, seolah ikut menjadi saksi percakapan yang tak lagi dibayangi masa lalu.

Celes memandang sahabat-sahabatnya dengan mata yang lebih tenang dari sebelumnya. “Menurut kalian… bagaimana masa depan kerajaan kita nanti?”

Arthur tersenyum miring. “Mungkin tidak sempurna.”

Beatrix menimpali, “Mungkin masih akan ada konflik.”

Charles menambahkan, “Tapi setidaknya, kita tidak akan menghadapinya sendirian lagi.”

Celes mengangguk pelan. Ia memandangi tangan-tangannya sendiri, lalu rumput di bawah kakinya, seakan menyadari bahwa tanah yang sama pernah menjadi tempat mereka bermain saat kecil. “Kadang aku lupa,” katanya lirih, “bahwa sebelum kita menjadi pewaris tahta, kita pernah hanya menjadi anak-anak yang berlari tanpa beban di halaman ini.”

“Dan mungkin,” ujar Beatrix lembut, “kita bisa belajar mengingatnya lagi. Sedikit demi sedikit.”

Angin kembali berhembus, membuat daun-daun bergemerisik pelan seperti bisikan lama yang akhirnya berdamai dengan waktu.

“Kalau begitu,” kata Celes pelan, senyumnya ringan tanpa beban, “biarlah masa depan datang. Kita akan menyambutnya bersama.”

Di bawah pohon tua yang menjadi saksi awal dan akhir dari jarak di antara mereka, empat sahabat itu duduk berdampingan. Bukan lagi sebagai pewaris tahta dari empat kerajaan yang terpecah, melainkan sebagai anak-anak yang pernah berjanji dan akhirnya, setelah sepuluh tahun yang panjang, benar-benar menepatinya.



KARYA KELAS XI-B (Catherine, Leo, Nicky, dan Michelle)


Lembaran Baru

Bab I

 

Kringgg…

Kringgg…

Sebuah ponsel terus berdering, mengisi sunyi pagi hari itu. Itu adalah suara alarm dari seorang pemuda, Bagas Pratama. Umurnya dua puluh tiga tahun, lulusan SMK yang merasa hidupnya berhenti berkembang sejak hari kelulusannya. Ia lahir dan besar di sebuah kota kecil di Jawa Tengah—kota yang jalannya sempit, gosipnya lebar, dan harapannya sering kali mentok di warung kopi depan kantor kelurahan.

Bagas tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua adik yang nyaris setiap hari bertengkar soal hal sepele. Ayahnya keras kepala, ibunya keras suara, sementara Bagas selalu berada di tengah—tidak cukup didengar untuk dianggap dewasa, tapi terlalu tua untuk terus disuruh diam.

“Kalau nggak mau nurut, ya keluar dari rumah, jangan jadi beban di rumah!” bentak ayahnya suatu malam.

Kalimat pendek itu menancap di kepala Bagas seperti paku karatan. Malam itu juga, setelah semua tertidur, ia diam-diam mengemas pakaian seadanya ke dalam ransel hitam. Tidak ada rencana yang matang, hanya satu tujuan, yaitu Jakarta. Kota yang katanya kejam, ramai, padat, modern tapi setidaknya jujur.

 

Bab II

Pertemuan tak Terduga

 

Perjalanan kereta ekonomi menuju Jakarta selalu penuh dengan cerita, bau minyak kayu putih dan tangisan anak kecil serta cemoohan dari sang ibu. Bagas duduk di samping seorang kakek berjaket lusuh, berkacamata tebal, dan membawa kantong plastik berisi roti tawar serta sebotol air mineral.

Sejak Bagas duduk, Kakek itu terus menatap Bagas.

“Kamu… akhirnya pulang juga,” katanya pelan.

Bagas menoleh, bingung. “Maaf, Kek?” Bagas tak tahu, apakah kalimat itu ditujukan untuknya, atau hanya salah paham.

Kakek itu tersenyum lebar, senyum yang terlalu hangat untuk orang asing. “Ayah kira kamu nggak ingat jalan pulang.”

Bagas tertawa canggung. “Hehe… sepertinya kakek salah orang.”

Namun, kakek itu justru menggenggam tangan Bagas erat-erat. “Bagus sekali, kamu sekarang lebih kurus, tapi matanya masih sama seperti dulu.”

Bagas terdiam sejenak. Ia bisa saja menarik tangannya dan meluruskan semuanya, tapi entah kenapa, ada rasa asing yang familiar, perasaan yang tak pernah ia dapatkan dan rasakan sebelumnya. Hangat, seperti sedang dipeluk oleh seseorang setelah lama tak pulang.

Bagas menanyakan segala bentuk pertanyaan kepada kakek itu, aneh rasanya menanyakan hal-hal pribadi kepada orang yang baru Ia kenali.

Namanya Pak Rahman, Ia tinggal sebatang kara di sebuah rumah tua di daerah Rawamangun. Istrinya telah meninggal sejak lima tahun lalu dan anak laki-lakinya pergi meninggalkan Dia entah ke mana sejak bertengkar hebat sepuluh tahun lalu.

Kini, Pak Rahman yakin—sangat yakin—bahwa Bagas adalah anaknya yang hilang 10 tahun lalu.

 

Bab III

Perubahan Rencana Tujuan 

Alih-alih turun di stasiun tujuan awalnya, Bagas justru ikut pulang dengan Pak Rahman. Mereka berjalan dan berbincang sepanjang perjalanan. Sesampainya mereka di rumah Pak Rahman, Bagas mengamati rumah dan seisinya. Rumah itu sederhana, penuh foto lama, dan bau kayu tua juga minyak urut. Di ruang tamu, dipajang sebuah bingkai yang tidak berukuran besar maupun kecil, foto seorang pemuda yang berusia kisaran 18 tahun—wajahnya mirip seperti Bagas, tapi jelas bukan dirinya.

“Keren bukan, kamu dulu,” kata Pak Rahman bangga.

Bagas menelan ludah, Ia merasa ada yang aneh ketika mendengar kalimat itu. Jelas, karena orang yang ada di foto itu memang bukanlah Bagas.

 

Bab IV

“Anak Angkat”

Sejak pertemuan itu, Bagas tinggal bersama dengan Pak Rahman. Pak Rahman selalu membuatkan sayur lodeh untuknya, meskipun sering kali membuat keributan dan masalah—seperti lupa mematikan kompor setelah masak. Bagas merasakan banyak hal aneh, juga kehangatan yang tak pernah Ia rasakan. Bagas banyak membantu Pak Rahman, mengganti bohlam, menemani Pak Rahman berkeliling sore di taman kota dan mendengarkan cerita Pak Rahman tentang masa mudanya juga anaknya.

Terkadang, Pak Rahman tiba-tiba menangis saat pagi hari, bukan karena fisiknya terluka, namun karena ingatannya yang buruk dan tak beraturan. Ia sering kali lupa hari, tanggal-tanggal penting, juga orang yang penting untuknya, termasuk Bagas. Ia sering merasa sedih karena anaknya yang belum kembali, bahkan saat Bagas duduk tepat di depannya—walaupun memang, Bagas bukanlah anak kandungnya.

Bagas tidak tahu apa yang terjadi dengan Kakek Tua ini, dia hanya berusaha untuk memahami dan berfikir bahwa mungkin itu karena Bagas memang bukan anak kandungnya. Ia terus berfikir seperti itu hingga suatu saat Bagas menemani Pak Rahman untuk pergi, Ia tak tahu kemana arah tujuan mereka berjalan, Bagas hanya mengikuti Pak Rahman, kemanapun arahnya.

 

Bab V

Alzheimer

Setibanya mereka di tempat itu, Bagas bingung, apa yang akan dilakukan oleh Kakek Tua itu disana, puskesmas. Ini pertama kalinya Bagas menemani Kakek ke puskesmas, namun dia hanya bisa terus mengikutinya.

Pada hari itu Bagas baru tahu, bahwa Pak Rahman mengidap penyakit Alzheimer stadium awal, hal itulah yang menyebabkan Pak Rahman sering kali lupa dengan banyak hal, bahkan hal yang penting dan baru saja terjadi. Bagas mulai paham, bahwa Pak Rahman memang tidak secara sengaja mengakui Ia sebagai anaknya, melainkan itu karena ingatannya yang lemah.

 

Bab VI

Orang Tak Dikenal

Tak Ia ketahui, ternyata Pak Rahman memiliki beberapa orang terdekat yang peduli pada kesehatan Pak Rahman. Mereka bukanlah keluarga dari Pak Rahman, mereka adalah tetangga dari Pak Rahman.

Suatu malam, seorang pria tiba-tiba datang ke rumahnya, tak tahu apa tujuannya, yang pasti Bagas bersiaga apabila sesuatu yang tak diinginkan terjadi. Bagas membuka pintu perlahan dan mengamati siapa pria tersebut, tiba-tiba terdengar suara pria, “Siapa kau, kenapa kau bisa di rumah Pak Rahman?” ucapnya. Bagas sontak terkejut, “Justru siapa kau, kenapa datang ke sini malam-malam?” teriaknya. Pria iu ternyata adalah salah satu tetangga Pak Rahman yang pernah dibantu oleh Pak Rahman untuk membangun sebuah bisnis bengkel, Ia bernama Dimas.

Setelah saling mengenal satu sama lain, mereka akhirnya masuk ke dalam dan berbincang, Bagas menceritakan bagaimana Ia bisa sampai ke tempat itu dan tinggal bersama Pak Rahman. Mendengar cerita itu, Dimas sangat senang, Ia merasa bahwa hal itu bisa sangat membantu menyebuhkan kondisi Pak Rahman saat itu, selain itu, Ia juga merasa bahwa kini ada orang yang dapat menjaga Pak Rahman. Tak lama setelah Bagas menyelesaikan ceritanya, Dimas bergegas memanggil ke dua tetangganya yang lain untuk mendengar kabar itu.

 

Setibanya dua tetangga itu di rumah Pak Rahman, mereka memperkenalkan diri kepada Bagas, begitu juga sebaliknya. Yang pertama adalah Bu Dinda, dia adalah ibu-ibu yang sudah cukup tua, sebelum ada Bagas, Ia sering menemani Pak Rahman berjalan di taman kota ataupun pergi ke puskesmas. Yang kedua adalah Adjeng, Ia adalah seorang remaja yang bekerja paruh waktu untuk memenuhi keinginan keluarganya, tanpa Pak Rahman, Ia tidak akan dapat bekerja dan bertahan sejauh ini. Sekali lagi, Bagas menceritakan bagaimana Ia bisa sampai di tempat itu kepada Bu Dinda dan Adjeng.

Mendengar bahwa Pak Rahman berfikir Bagas adalah anaknya, mereka sangat senang dan penuh harapan kepada Bagas. Mereka meminta Bagas untuk tetap disitu bersama dan menemani Pak Rahman. Bagas tak bisa memenuhi keinginan mereka, sedari awal, tujuan Bagas adalah mencari uang untuk membelikan neneknya tempat peristirahatan terakhir, dengan tetap diam disitu, Bagas tidak bisa menghasilkan uang sedikitpun.

Mereka berusaha membujuk Bagas untuk tetap disitu walaupun Bagas berusaha menolak, hingga akhirnya Dimas menawarkan untuk bekerja di tempatnya dengan gaji 2x lipat sehingga Bagas tetap dapat  bekerja sembari menjaga Pak Rahman. Penawaran menarik itu membuat Bagas mempertimbangkannya sehingga akhirnya Bagas menerima tawaran tersebut.

 

Bab VII

Masalah Baru

 

Hari demi hari berlalu, Bagas senantiasa menjaga Pak Rahman—walau dalam hatinya, Ia sudah lelah menghadapi tingkah laku Kakek Tua itu.

Malam itu, Bagas pulang lebih malam dari biasanya, sesampainya di rumah, Ia mendapati bahwa Pak Rahman tertidur di sofa, di meja makan, sudah lengkap semua lauk untuk disantap, rupanya Pak Rahman sudah memasak makan malam untuk mereka, namun sayangnya Bagas pulang terlambat sehingga Pak Rahman menunda makan dan munggu Bagas hingga kembali.

Hal itu jelas mengharukan, Bagas tak kuasa menahan air mata yang sudah menetesi bajunya. Ia segera membangunkan Pak Rahman untuk menyantap makanan tersebut sebelum semakin dingin. “Kakek, ayo bangun dan makan bersama lalu kau bisa kembali tidur ke kamarmu,” ucap Bagas pelan. Bagas lalu kembali menuju meja makan untuk menyiapkan peralatan makan mereka.

Pak Rahman hendak bangkit berdiri dari sofanya dan berjalan menuju meja, namun tiba-tiba kakinya tersandung oleh kaki meja ruang tamu dan membuatnya terjatuh, kepalanya terbentur sudut meja dan membuatnya pingsan.

 

Bagas segera menghampiri Pak Rahman dan memastikan kondisinya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan, sehingga yang Ia lakukan pertama adalah memanggil ketiga tetangga terdekatnya untuk membantunya membawa Kakek Tua itu ke rumah sakit.

Setibanya mereka di rumah Pak Rahman, mereka menyalahkan Bagas atas kejadian ini dan mengatakan bahwa ini karena Bagas yang tidak sepenuhnya memperhatikan Pak Rahman. Bagas yang kesal mendengar hal itu tak terima, “Ini bukan salahku, lagipula kalian yang meminta aku untuk menjaga Pak Rahman, kalau seperti itu mengapa tidak kalian saja!” tegas Bagas.

Mereka terus saling menyalahkan satu sama lain alih-alih membawa Pak Rahman menuju rumah sakit, hingga akhirnya Bu Dinda melerai perdebatan itu dan segera menelepon ambulans ke sana.

 

Bab VIII

Ingatan yang Memprihatinkan

 

Sesampainya di rumah sakit, Pak Rahman segera diberikan penanganan darurat. Dokter mengatakan bahwa benturan yang telah terjadi tadi dapat mengakibatkan hilangnya ingatan Pak Rahman beberapa hari kebelakang ini dan memperburuk ingatan serta keadaannya. Selain itu, kondisi penyakitnya juga kian memburuk, dokter berkata bahwa pada kondisi seperti ini, peran orang terdekatnya sangatlah diperlukan untuk membantu proses penyembuhan dan rehabilitas dari pasien. Dokter juga mengingatkan bahwa yang terdampak dari penyakit Alzheimer ini bukanlah penderitanya, melainkan orang sekitarnya terutama orang terdekatnya.

Hal itu semakin membuat mereka saling menyalahkan, terutama Bagas dan Dimas. Bagas sudah berencana untuk pergi meninggakan kota itu dan kembali ke tujuan awalnya, namun Dimas tetap mencegatnya dan memohon untuk tetap bersama dengan Pak Rahman sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatannya.

Di tengah perbincangan mereka, tak sadar Pak Rahman terbangun dari tidurnya, Ia memperhatikan sekitar dan tampak bingung dengan apa yang terjadi, “Apa yang telah terjadi, kenapa saya ada disini?” ucap Pak Rahman yang masih memproses respon tubuhnya.

“Hei Bagas, siapa orang-orang ini? Kenapa mereka ada disini, apa yang mereka lakukan? Kenapa ayah ada di rumah sakit, apa yang terjadi?” lanjut Pak Rahman dengan rasa bingung dan penasarannya.

Bab IX

Menantu Dadakan

Sebelum Bagas sempat menjawab semua pertanyaan itu, Dimas lebih dulu menjawab dengan lancer, tegas dan lantang.

“Pak Rahman, biar saya perkenalkan kembali ya, yang ini namanya Adjeng, dia anak menantu bapak, istri dari Bagas. Lalu yang ini, Bu Dinda, dia adalah ibu dari Adjeng atau mertua Bagas. Terakhir saya, Dimas, teman sejati Bagas di tempat bekerjanya sekarang.” Bagas sangat kaget mendengar semua yang diucapkan oleh Dimas, kalimat yang penuh dengan kebohongan.

Tak sempat Bagas menjelaskan yang sebenarnya, kakinya tiba-tiba ditendang oleh Dimas yang menandakan bahwa Dimas sedang mengancam Bagas untuk tidak berbicara yang sebenarnya.

Pak Rahman yang mendengar semua hal itu sangat senang, “Yaampun ternyata setelah lama kamu pergi, kamu kembali membawakan menantu untuk ayah, Gas. Kamu bahkan sekarang memiliki teman yang sangat baik padamu.” ucap Pak Rahman gembira.

Selama satu jam penuh, mereka hanya berbincang dalam ruangan dengan bau alkohol rumah sakit itu. Mereka bercerita seolah mereka adalah satu keluarga seperti yang dijelaskan kepada Pak Rahman tadi.

Setelah Pak Rahman kembali beristirahat, mereka keluar dari kamar pasien. Bagas yang sudah menahan sedari tadi langsung menyeletuk, “Apa-apaan yang kalian perbuat tadi?” kesalnya.

“Aku melakukan itu agar kau tak bisa pergi dari sini dan dapat terus menjaga Pak Rahman. Kau tak akan bisa pergi lagi setelah dia tau bahwa kau sudah mempunyai istri.” jelas Dimas dengan bangga dan senang. Bagas yang mengetahui bahwa dirinya sudah kalah hanya bisa mengalah dan berpasrah dengan kemauan mereka.

Sejak hari itu, status mereka resmi anak dan menantu. Setiap kali Adjeng datang, Pak Rahman selalu memanggilnya “Nak”, meminta dibuatkan teh, dan menanyakan kapan mereka punya cucu.

Adjeng, yang awalnya tidak suka, justru ikut terbawa arus. Ia semakin sering mampir, membantu bersih-bersih, dan bahkan membelikan obat juga semakin sering ikut merawat Pak Rahman.

“Aneh ya, aku malah jadi nyaman dan betah disini, rasanya seperti aku memiliki keluarga yang sebenarnya.” kata Adjeng suatu malam. Bagas tersenyum untuk pertama kalinya sejak lama saat mendengar hal itu.

Bab X

Keluarga Tanpa Darah

Sejak saat itu, hari-hari mereka dipenuhi kejadian absurd. Setelah Pak Rahman pulang dari rumah sakit, mereka menjadi lebih sering kumpul bersama. Pak Rahman pernah menyangka televisi adalah microwave, Ia juga pernah mengira tetangga sebagai maling dan menyiramnya pakai air cucian beras bahkan pernah juga mengamuk karena merasa Bagas mencuri sepatunya—padahal sepatu itu dipakai sendiri.

Namun di sela kekacauan itu, ada banyak momen-momen kecil yang menenangkan. Pak Rahman terkadang mengajari Bagas mengikat layang-layang, mengajaknya salat berjamaah juga sering mengusap kepala Bagas saat ia tertidur di sofa.

“Kamu anak yang baik, Bagas” ucapnya suatu malam.

Bagas yang belum tertidur, menangis diam-diam saat mendengar kalimat yang tidak pernah Ia dengar sebelumnya.

 

Bab XI

Masa Lalu yang Kelam

 

Dibalik semua hal itu, Pak Rahman sering membangunkan Bagas pagu-pagi buta untuk berlatih. Dalam ingatannya, anaknya dulu adalah seorang atlet angkat beban, seperti dirinya saat muda, sehingga Ia terus meminta Bagas untuk berlatih agar dapat meraih medali emas pada pertandingan selanjutnya.

Pada pertandingan terakhir, anaknya hanya mendapatkan medali perak sehingga hal itu terus menghantui diriya, terutama setelah anaknya yang hilang entah kemana.

Bagas terkejut saat mengetahui semua fakta itu, tak heran mengapa Ia terus dipaksa untuk berlatih siang malam. Hal tersebut semakin mengejutkan saat Dimas, Adjeng dan Bu Dinda memberitahukan satu hal penting lainnya.

Selama ini, anak yang dimaksud-maksud oleh Pak Rahman, yaitu anak kandungnya sendiri, sebenarnya sudah tiada. Dia meninggal saat melakukan aksi relawan dalam rangka membantu korban bencana dan jasadnya tidak dapat ditemukan.

Kondisi Pak Rahman yang sekarang membuatnya tak dapat mengingat hal itu dan membuat ingatannya hilang sehingga hanya dapat mengingat kejadian saat anaknya masih hidup.

Hal itu membuat Bagas menjadi sangat terkejut.

Bagas berfikir bahwa faktor utama yang membuat Pak Rahman menjadi seperti ini dalam melatih Bagas menjadi atlet adalah karena kekalahannya yang sebelumnya sehingga membuat Pak Rahman terus merasa tak tenang.

 

Bab XII

Rencana Besar 

Bagas memikirkan hal gila yang dapat dilakukan untuk membantu penyakit yang diderita Pak Rahman. Ia segera mengumpulkan Dimas, Adjeng dan Bu Dinda untuk menjalankan rencana ini.

Bagas merencanakan untuk membuat kompetisi yang dulu diikuti oleh putra Pak Rahman dibuat ulang seolah anaknya meraih medali emas. Hal itu terdengar gila, bahkan Dimas sempat membantah dan tidak yakin dengan hal itu.

“Ayo kita jalankan ide Bagas,” ucap Adjeng dengan sangat yakin.

“Itu adalah satu-satunya cara yang dapat kita lakukan sekarang, demi Pak Rahman,” sambung Bu Dinda.

Dimas yang mendengar hal itu hanya bisa ikut dan membantu rencana ini agar dapat berjalan dengan baik dan mulus,

 

Bab XIII

Keberhasilan

Mereka berusaha untuk dapat membuat acara itu menjadi semirip mungkin dengan aslinya. Mereka bahkan menggundang beberapa orang dari luar negeri untuk mendukung pemalsuan ini.

Tiba pada hari yang ditunggu-tunggu, yang menjadi penantian apakah semua usaha yang sudah dilakukan akan berhasil atau hanya menghabiskan semua waktu yang sudah mereka luangkan untuk Pak Rahman.

Pak Rahman duduk di kursi yang persis seperti posisi kursinya dulu, dengan interior, desain dan suasana yang sama. Acara dimulai dan dibuka dengan tepuk tangan yang sangat meriah mengiring acara tersebut.

Tiba saatnya Bagas maju ke depan, Diman, Adjeng juga Bu Dinda sangat khawatir dan berharap yang terbaik. Dalam hitungan mundur, Bagas mengangkat besi.

“WOOAAAWW,” teriak penonton.

“ITU DIA, PERAIH MEDALI EMAS KITA TAHUN INI, BAGAS PRATAMAAA!”

Suara-suara itu terdengar jelas dan bergema dalam lapangan, mendukung pemalsuan acara yang mereka buat. Tepuk tangan bergemuruh mengisi ruangan dan memciptakan keramaian yang belum pernah ada sebelumnya.

Semua hal itu mengingatkan kembali Pak Rahman dengan kejadian lalu, namun dengan ingatan bahwa Bagas adalah peraih medali emas pertama dari Indonesia. Rencana itu berjalan lancer dan sangat baik, mereka benar-benar behasil mengubah ingatan Pak Rahman.


Bab XIV

Keluarga Baru 

Setelah saat itu, mereka kembali menjalani kehidupannya seperti biasa, namun menjadi lebih bahagia dan sederhana. Mereka sering berkumpul bersama dan berbagi banyak cerita.

Bagas kini bekerja di bengkel yang lebih besar, dengan pengalaman yang tinggi dan gaji yang tinggi. Ia tetap berusaha untuk membelikan tempat peristirahatan terakhir untuk neneknya.

Adjeng sudah bekerja di bank kota dengan gaji yang tinggi, Ia juga sudah tidak berurusan dengan keluarga lamanya untuk menghindari masalah seperti dahulu.

Dimas mendirikan bengkelnya yang baru di daerah kota ramai sehingga menjadi sedikit lebih sibuk. Sedangkan Bu Dinda senantiasa menjaga Pak Rahman dalam setiap aktivitasnya.

Suatu hari,

Kringgg…Kringgg…

Bagas segera meraih ponselnya dan menjawab panggilan suara tersebut,

“Gas, Pak Rahman sudah meninggal.” Ucap Adjeng.

Bagas tidak banyak menjawab, Ia segera mengambil semua barang-barangnya dan bergegas kembali. Tidak ada hal lain yang Ia pikirkan selain Pak Rahman.

Sesampainya di rumah, bendera kuning sudah dipasang, Dimas, Adjeng dan Bu Dinda sudah berkumpul di ruang tamu, depan TV yang menyala.

“Bagas, kemari, lihat cuplikan ini,” ucap Bu Dinda.

“Rahman, yang ini Dinda, dia selalu menemanimu berjalan dan melakukan sesuatu, jangan sampai lupa. Rahman, yang ini adalah Dimas, dia adalah orang yang pernah kau bantu dan orang yang siap menjaga kau dari kejahatan, jangan sampai lupa. Rahman, ini adalah Adjeng, dia adalah wanita yang baik dan pejuang, berusaha keras untuk keluarganya, gadis yang malang, jangan sampai lupakan dia. Terakhir, ini adalah Bagas, dia berpura-pura menjadi anakku, namun aku senang. Dia merantau untuk mengumpulkan biaya makam neneknya, dia adalah pejuang keras, jangan sampai lupakan dia. Rahman mengapa kau bodoh sekali menderita oeyakit seperti ini, kau melupakan semuanya.”

Semua cuplikan itu diambil saat mereka tak sadar dan tak mendengar. Pak Rahman selama ini tahu, bahwa mereka bukanlah keluarga sedarah, namun dia tetap memperlakukan mereka seperti keluarganya sendiri.

Ia membuat cuplikan-cuplikan itu untuk mengingat orang-orang yang penting baginya, dia bahkan menyalahkan dirinya sendiri karena menderita penyakit seperti itu sehingga melupakan orang terdekatnya.

Air mata perlahan mengalir, membasahi baju dan muka yang tak kuasa menahan tangis. Kondisi Pak Rahman yang seperti itu tak membuat mereka terpecah, justru menjadi lebih kuat, bahkan walau mereka tidak sedarah.


KARYA SISWA KELAS XI-C (Khevan, Revie, Livia, M. Tanto, dan Erika)



Bunga Untuk Pohonku

Sungguh, hidup ku terasa amat berat karena beban tuntutan yang harus aku tanggung dari orang tua ku. Orang tua ku dengan sifat perfectionist membuat ku gila. Diriku dipenuhi rasa muak, hingga untuk hidup pun, aku merasa tidak selera lagi. Di umurku yang baru menginjak 15 tahun, aku sudah ingin menyerah dengan hidup ku. Syukurnya, aku masih memiliki secercah harapan untuk hidup, demi mewujudkan keinginan nenek ku. Dulu nenek ku selalu bercerita tentang manisnya kisah persahabatannya, ia meminta ku untuk merasakan indahnya persahabatan. Saat itu aku tidak terlalu memikirkannya, namun ketika nenek meninggal. Seolah di dalam diriku timbul rasa keinginan untuk mewujudkan permintaannya. Setelah kisah persahabatan itu selesai, aku akan berjuang untuk mencari cara agar aku bisa terlepas dari kehidupan ini.

Tak kurasa, aku sudah tiba di hari pertama masuk SMA. Mungkin orang lain merasa antusias, tapi anehnya hati ku tak merasa antusias sedikitpun ketika akan menerima hal baru tersebut. Menurut ku memulai SMA akan menjadi tantangan yang lebih berat, akan membuat ku lebih menderita. Pagi ini aku sudah terduduk di dalam kelas yang sudah dipenuhi dengan siswa siswi lain. Kemudian bel masuk kelas pun berbunyi, tak lama guru pun memasuki ke kelas. Guru itu masuk kelas dengan senyuman pada wajahnya, ia berdiri di depan papan tulis dengan membawa lembar absensi. “Pagi anak-anak, selamat datang di Meridean highschool. Ms akan mengecek kehadiran kalian, tolong jawab saat dipanggil” Aku melamun, entah memikirkan apa sembari menunggu nama ku dipanggil. “Nara?” lalu aku mengangkat tangan ku sembari menyaut “hadir Ms”. Sesaat aku menjawab, aku kembali hanyut dalam lamunan.

Murid lain melirik kesana dan kemari, mereka sedang kegirangan berbincang-bincang satu sama lain, aku dapat mendengarkan suara suara itu. Namun disisi ku, semua hanyalah hampa. Di benak ku masa SMA akan terasa kosong seperti biasanya. 

Beberapa minggu kemudian, kelas ku diberi project daur ulang. Kami diminta untuk membuat kelompok berisikan dua orang. Di kelas, aku  melirik kesana kemari dengan kebingungan sembari berfikir, apakah ada orang yang ingin satu kelompok dengan ku. Selama ini aku tidak pernah dekat dengan siapa pun, bukan karena ada masalah cuman aku hanya ingin sendirian saja. Tiba - tiba ada yang menepuk bahu ku dari belakang, aku terkejut dan menoleh ke arah belakang ku. Aku melihat teman sekelas ku, Hana. Ia tersenyum manis lalu menarik bangku kosong di sebelahku lalu mendudukinya. “Mau sekelompok ga?” Aku terdiam, bingung mengapa ia mau sekelompok dengan ku. “Diam artinya mau ya, ga ada penolakan” mendengar itu, aku hanya tersenyum lalu mengangguk. Kami pun berdiskusi tentang project apa yang ingin kita buat.

 Bel pulang sekolah berbunyi, Hana mengajak ku untuk melanjutkan diskusi di rumahnya. Kemudian kami berjalan bersama ke rumah Hana yang kira-kira 15 menit dari sekolah. Selama perjalanan Hana memperhatikan ku, aku pun menoleh lalu bertanya “Kenapa? Ada yang salah?” Hana menggaruk kepala nya sambil tersenyum canggung “Tadi aku lupa bilang kalo rumahnya agak jauh dari sekolah, maaf ya. Aku takut kamu kecapean” lalu aku menjawab “Gapapa kok, gausah terlalu mikirin aku ya” Hana pun tersenyum lalu mengacungkan jempolnya. Tak lama langkah Hana terhenti di depan rumah kecil yang sederhana, ia menarik tangan ku untuk memasuki rumah itu. Terdengar teriak-an dari seorang anak laki-laki “Kakak! kapan pulang?” Ternyata itu adiknya Hana. Anak itu berteriak dengan mata yang berbinar seperti adik yang sudah lama tak jumpa dengan kakaknya. Hana berlutut lalu memeluk adiknya itu, lalu menjawab pelan “Kakak baru aja pulang dek, kenalin ini temen kakak” aku melambaikan tangan ku padanya “Aku Nara, nama kamu siapa?” anak itu langsung tersenyum lebar lalu berkata “nama ku Kiel, salam kenal kak Nara!” Sungguh manis adiknya, pikir ku. Hana lalu berdiri dan memberitahu Kiel untuk pergi ke kamar. Hana mengajakku ke kamar nya untuk melanjutkan diskusi kami. Selama berdiskusi, aku merasa nyaman dekat bersama Hana. Sebelumnya aku tak pernah merasa seakrab ini dengan orang lain, ku harap dia akan menjadi sahabat ku nanti. Setelah diskusi selesai, aku memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai gelap. Hana mengantarku keluar rumah, ia melambaikan tangannya sembari berkata “Maaf kalo rumahku kurang nyaman, hati-hati dijalan ya!” Aku hanya bisa tersenyum dan melambaikan tangan ku padanya sembari melanjutkan perjalanan kembali ke rumah ku.

Setelah menemui Hana, aku merasa bahwa beban ku sedikit demi sedikit terasa lebih ringan. Kurasa cahaya Hana menerangi kegelapan ku, bersamanya aku mulai merasa diri ku lebih hidup walau cuman sedikit. Di sekolah kami semakin sering berbincang bersama, menertawakan berbagai hal lucu, belajar dan mengerjakan tugas bersama. Hingga pada akhirnya aku mengajaknya untuk mengerjakan project dirumah ku. Sebenarnya aku sempat ragu karena orang tua ku tidak suka, jika aku bergaul dengan orang yang perekonomiannya kurang baik, namun aku tidak peduli. Saat kami berdua tiba dirumah ku, aku meminta Hana untuk tetap tenang. Kami pun berhasil memasuki rumah tanpa diketahui orang tua ku, aku ajak Hana masuk ke kamar ku. Aku mengunci kamar ku, dan kami mulai mengerjakan project kita. Project kita adalah membuat pot bunga hasil daur ulang dari bahan plastik, menurut Hana memelihara hal hidup akan membawa kehidupan juga bagi kita. Aku mengagumi sisi Hana yang selalu berpikir positif, ia pantang menyerah dan penuh harapan. Akhirnya pot nya selesai, Hana meregangkan badannya sembari duduk lalu mengambil potnya “Kita beri nama pot ini, pot kehidupan! pot ini akan menjadi simbol awal persahabatan kita” Hana tersenyum pada ku, aku tertawa kecil “Iya, Hana. Ini pertama kalinya aku bersahabat, tolong bersabar dengan ku jika aku keras kepala”, jawabku dengan jujur. Hana memukul ku pelan lalu ia merengek “Jangan bilang gitu dong! aku juga punya banyak kekurangan, aku mau persahabatan kita menjadi awal kita berjuang bersama” aku tertunduk, terdiam sejenak lalu menghadap Hana kembali “ Kalo aku menyerah duluan, bagaimana?” Hana terkejut mendengar respon ku, ia sempat terdiam sejenak lalu ia menggenggam tanganku sembari berkata “Aku janji akan selalu ada disisi kamu, tenang ya kita hadapi bersama sama, kamu ada untuk aku, aku ada untuk kamu”. Air mataku hampir menetes mendengar perkataan Hana yang diucapkan untukku. “Dia seperti sangat tulus ingin berteman denganku”, pikirku di dalam hati. Di sisi lain, Aku menghela napas, keherenan dengan Hana yang begitu yakin seakan hidup sangat mulus. Lalu Aku tersenyum padanya, lalu tiba-tiba aku mendengar ketukan keras dari pintu ku. Jantungku berdetak kencang, tubuhku mulai menegang. Hana panik melihat diriku terlihat begitu panik, ia memegang bahuku “Kamu kenapa? Jangan bikin panik dong” lalu terdengar teriakan kencang dari luar kamar ku “Nara! buka pintunya, mamah ga pernah ngajarin kamu bawa temen diem-diem ke kamar” Terpaksa aku harus membuka pintu, melihat ibu ku yang sudah memegang erat sapu. Aku sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya, aku berdiri di depannya menunduk sambil menanti pukulan yang akan aku terima. Ibu ku mengangkat sapunya lalu ia bersiap memukul ku, namun tiba-tiba Hana memeluk ku. Pukulan sapu mengenai tubuh Hana, ibu ku menatap tajam muka Hana “Anda tidak usah ikut campur urusan saya dengan anak saya! Jauhi anak saya, dasar anak miskin! Baju mu saja terlihat lusuh, berani-beraninya anda menginjak kaki dirumah saya” Mendengar hal itu, rahangku mengeras, tangan nya mengepal kencang hingga gemetar lalu ia berteriak “Mamah boleh nyakitin aku, tapi tolong tau diri! jangan sakiti orang lain, Mah! Aku ga ngerti lagi sama pemikiran mamah, ga punya perasaan. Sikap mamah lebih rendah dari apapun, wajar aja mamah ga punya teman” Aku menarik tangan Hana, mendorong ibu nya hingga ia bisa melewati halangan ibunya. Mereka pergi jauh dari rumah, ke taman dekat rumah Hana.

 

Mereka sampai ke taman itu, tak lama rintik hujan turun membasahi mereka berdua. Hujan deras menutupi wajahku yang dipenuhi air mata, dada ku berdetak kencang. Mata ku melirik kesana-kemari seakan dikejar masalah, nafasku terengah-engah. Rasanya semua tekanan berkumpul di dadaku yang mulai terasa engap, namun tekanan itu sudah tidak tertahan lagi. “Aku capek! semua tuntutan orang tua ku membuat ku gila, tindakan kasarnya selalu menanti ku tiap hari. Badan ku sakit, hati ku berat, motivasi ku hilang untuk melanjut hidup. Aku tak mau melanjutkan hidup lagi, Hana! Tolong, bantu aku sudahi penderitaan ini. Badan ku penuh memar, mental ku rusak. Apalagi yang harus dipertahankan?”  Hana terkejut mendengar ucapanku. Hana melangkah mendekatiku tanpa mengatakan sepatah kata, kemudian Hana memeluk ku. Tangisku pecah, meluapkan semua tekanan yang ada di dada ku. Melepas kesesakan yang selama ini aku pendam. Hana memelukku erat, seakan ia memahami kondisiku saat ini. “Jangan nyerah dulu, ada aku disini.  Masih banyak harapan yang bisa kamu capai, kita bisa melaluinya bersama” Aku melepas pelukannya dengan kencang, lalu ku bentak “Dirimu terlalu optimis! berpikirlah sesuai realita, diri ku ini sudah tidak ada harapan. Dari dulu jiwa yang ada di tubuh ini sudah mati. Keberadaan ku hanya akan menyusahkan diri mu, lebih baik aku mati dibanding menyusahkan mu”. Air mata ku terus mengalir, tanganku menggenggam keras. Hana menarik tangan ku, memaksa memeluk ku walau aku berusaha untuk melepas diri. “Aku lebih baik bersusah-susah bersama mu dibanding melihat mu mati tidak berdaya, aku ingin kamu terus berkembang di hidupku. Aku ingin kamu menghidupi jiwa mu lagi. Aku janji aku pasti menemani mu, jangan menyerah tolong. Berjuang lah untuk ku, Nara” badan ku terasa lemas mendengar ucapannya, detak jantung ku melambat, tangan ku terasa layu. Pelukan Hana terasa makin erat, ku memeluk balik dia “Berjanjilah padaku, kamu akan terus berjuang hidup demi aku dan dirimu sendiri” Aku mengangguk lemas. Kemudian Hana menggandeng ku dan berjalan ke rumahnya untuk mengeringkan badan. Aku berakhir menginap dirumah Hana, untungnya besok hari sabtu sehingga aku tidak perlu ke sekolah. Aku terbaring di kasur, semua kejadian hari ini terulang kembali di pikiranku. Namun ucapan Hana menghangatkan kegelisahanku, tak lama aku pun tertidur.

Pagi hari, ku terbangun mendapati Hana tidak ada di kamar. Ku melihat pantulan ku dari cermin, mata sembab akibat tangisan kemarin. Berjalan keluar kamar, aku mendapati Hana sedang berbincang dengan seorang ibu-ibu. Kemudian Hana menghampiri ku, ia memperkenalkan bahwa ibu tersebut adalah bibinya. Hana bercerita bahwa orang tuanya sudah lama meninggal, sejak itu Hana dan Kiel di urus oleh bibinya. Ketika hari libur Hana sering mencari pekerjaan tambahan untuk membantu perekonomian. Kemudian Hana mengajak ku untuk menyantap sarapan, setelah itu aku mengajak Hana untuk kembali ke kamar. Aku merasa siap untuk terbuka padanya, maka mengeluarkan segala keluh kesahku terhadap tuntutan orang tua, kekerasan fisik yang terkadang ku terima, hingga keinginan untuk mengakhiri hidup. Hana mendengarkan seluruh keluh kesah ku, memeluk ku. Ia pun membuka diri untuk menceritakan keluh kesah nya saat ini. Hana selalu terpuruk pada kondisi ekonomi yang kurang mampu, untungnya ia bisa diterima di Meridian High School berkat Bea-siswa penuh. Sedari dulu Hana selalu bekerja keras, belajar mati-matian dan harus selalu optimis agar dia bisa mengubah kondisi hidup nya serta keluarganya. Ia selalu memiliki harapan yang tinggi untuk melanjutkan hidup dan menggapai cita-citanya. Kami berdua memiliki keinginan yang jauh berbeda. Aku yang selalu ingin mati, sedangkan dia yang sangat antusias menjalani hidupnya. Kondisi kami berdua sama-sama berat, namun kami sepakat untuk saling mensupport satu sama lain di berbagai masalah yang akan mendatang. Setidaknya saat ini aku mempunyai alasan untuk melanjutkan hidup, yaitu menemani sahabatku selalu dalam berkembang bersama.

Setelah sesi saling terbuka, Hana berdiri tegak lalu meregangkan badannya “Nar, kamu kapan pulang? aku ga berniat ngusir sih, cuman aku mau nyari uang tambahan” Mendengar itu aku pun berdiri “Ikut, aku mau bantu” Hana tersenyum mendengar hal itu, mereka berdua pun berpamitan pada bibi lalu keluar mencari uang tambahan. Mereka berkeliling di kompleks kemudian melakukan pekerjaan di beberapa rumah seperti menyiram tanaman, memotong rumput, membersihkan rumah. Kami menikmati waktu bersama walau harus mengeluarkan energi yang lumayan banyak. Hasil uang yang kami dapatkan langsung kami beri kepada bibi, bibi tersenyum dan mengelus kepala kami berdua sebagai tanda ucapan terimakasih. Karena sudah terlalu lama dirumah Hana, aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku akan bersikap cuek kepada orang tua ku untuk menghindari konflik sebisa ku.

Seiring berjalannya waktu, tak terasa aku sudah menduduki bangku kelas 12 bersama sahabat ku. Kami berdua selalu menghabiskan waktu bersama untuk belajar, karena kami memiliki mimpi untuk bisa masuk ke top Universitas. Selain itu, aku juga dituntut orang tua ku untuk mendapatkan ranking 1 di angkatan. Masa Ujian pun datang, aku dan Hana mengerjakan ujian dengan baik. Sampai lah pada hari pembagian rapot, aku datang ke sekolah dengan kedua orang tua ku. Saat memasuki kelas, hati ku berdetak kencang. Khawatir menghantui ku, badan ku terasa dingin tapi aku mencoba untuk tenang. Ku duduk di depan meja guru sambil menggenggam erat baju ku sedangkan orang tua ku duduk disampingku memasang muka bahagia. “Jadi bagaimana perkembangan anak kami, Ms?” lontar ibu ku. Ibu guru tersenyum lalu membuka rapot ku, nilai ku terpampang dengan Nilai 90 sampai 95. “Sangat baik bu, Nara berhasil meraih ranking kedua diangkatannya” Ibu dan ayah ku terdiam, lalu tersenyum kembali “Wah syukur ya, sekarang kami tinggal menunggu pengumuman apakah Nara dapat diterima di Universitas impiannya atau tidak. Mohon doa nya, Ms” Ibu guru memberikan rapotnya kepada ku beserta piala penghargaan telah mencapai ranking 2. “Selamat ya, Nara. Semoga kamu berhasil diterima di Universitas Impian mu. Aku tersenyum tipis sembari menerima rapot dan pialanya. “Amin Ms, terimakasih atas bimbingannya selama ini.

Setelah keluar dari kelas, dadaku berdetak kencang dan keringat perlahan mengalir di seluruh tubuhku. Kami berjalan ke mobil, selama di perjalanan penuh dengan keheningan. Aku tau sesampai dirumah akan ada sesuatu terjadi. Aku menahan tangisku dengan menggenggam baju yang kukenakan sembari mencubit tangan ku. Terbayang-bayang kejadian saat pembagian rapot kelas 9, aku berhasil meraih ranking 1 di angkatan ku namun nilai rata-rata ku kurang tinggi bagi orang tua ku. Aku berakhir dipukuli oleh Ibu ku, dan dikurung di gudang oleh ayah ku. Sungguh kejam, rasanya diri ku hanya akan dipakai oleh mereka untuk meneruskan usaha. Mereka memaksa ku untuk bekerja dan pintar seperti robot. Jika bisa terlahir kembali, aku akan memilih mati saja dibanding hidup dengan orang tua seperti mereka. Kami pun tiba dirumah, kami memasuki rumah. Sebelumnya diri ku merasa khawatir, namun sekarang khawatir itu berubah menjadi hampa. Diri ku mulai menerima bahwa nasib ku adalah untuk diperalat, dimanfaatkan dan disiksa. Aku mulai pasrah menerima nasib ku, sebaiknya dan secepatnya aku harus pergi dari kehidupan ini agar aku menyatu dengan kematian itu sendiri. 

Ibu menarikku ke gudang, ayah membawa sabuk yang biasanya digunakan pada ku. Aku dipaksa berlutut dengan penutup mata dikenakan. Seribu pukulan keras mengenai punggung ku, sungguh perih rasanya. Apa yang telah ku lakukan sehingga ku harus mendapat penderitaan ini? kemudian ibu meneriaki ku dengan kata-kata yang menyakitkan “Kami hanya menuntut kau nilai, tapi bahkan itu saja kau tak bisa. Kau ini bodoh atau bagaimana, Nara? kami sudah memberimu hidup enak, dan hanya ini saja yang kau berikan kepada kami? Jadi ranking 1 saja tidak bisa, apalagi meneruskan usaha keluarga!” Ibu ku kemudian menampar pipi ku keras, menjambak rambut ku hingga rontok sebagian yang ia tarik. Kepala ku terasa pusing, badan ku terasa perih. Air mata mengalir membasahi wajah ku, namun aku tetap diam. Aku berakhir dikurung semalaman di gudang tanpa makanan dan minuman sedikit pun. Perut ku keroncongan, tenggorokan ku terasa dingin. Badan ku mulai terasa lemas dan sekujur badan ku terasa sangat dingin. Di dalam gudang ini yang dipenuhi rongsokan, bocoran air hujan dan kotoran. Kepala ku terasa sangat pusing, semuanya berputar-putar dan kemudian tatapan ku menjadi buram dan menghitam dan aku pingsan. Aku terbangun di esok hari dengan pintu gudang yang sudah terbuka. Keluar dari gudang, kulihat rumah dalam kondisi kosong. Menghampiri dapur, aku tak melihat ada makanan hari ini, hanya ada lauk dan nasi sisa kemarin. Kemudian ku pergi memasak Mie dan menyiuk sedikit nasi sisa  kemarin. Mungkin rasanya tak enak, tapi setidaknya aku bisa mengisi perut ku sedikit. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah Hana untuk mencari kehangatan. Aku mengetuk pintu rumah Hana, tak lama Hana keluar dan menyambut ku “Nara, kamu kenapa? kok pucet banget mukanya?” sembari menarikku ke kamarnya. Aku menceritakan segala yang terjadi kemarin secara rinci, Hana mendengarkan ku lalu memeluk ku erat “Udah, gausah dipikirin lagi. Sekarang kamu ada disini, istirahatlah dengan tenang. Aku disini nemenin kok”. Aku menghela nafas, mengingat kejadian kemarin membuat ku sakit hati. Dada ku terasa sesak, namun berkat pelukannya rasa sesaknya mulai berkurang. Aku melepas pelukan Hana, menatap ke jendela sembari berkata “Hana, jujur rasanya ku pengen nyerah. Capek banget rasanya, aku muak deh” Hana menarik tangan ku dan menggenggamnya “Jangan nyerah dulu, ingat janji kita kan? kita akan selalu menemani dan berjuang bersama. Kalo kamu nyerah sekarang, artinya kamu mengingkari janji kita” Aku terdiam, pikiran ku penuh dengan kehampaan. Kami sempat terdiam beberapa menit, namun Hana menarikku keluar ke depan rumah yang terdapat pekarangan berisi pohon dan pot tanaman kami. “Lihat deh, pot kehidupan jadi awal persahabatan kita. Kalo kamu ingkar janji sekarang, artinya kamu membunuh kehidupan pot kita. Kamu mau kaya gitu?” Mendengar pernyataan itu, aku mulai sadar bahwa semenjak adanya persahabatan diantara kami, aku merasa lebih hidup. Jujur saja, aku tak mau persahabatan kami berakhir. Aku menggelengkan kepala ku pada Hana. Hana tersenyum “Yaudah jangan cemberut mulu, ayo kita main aja di kamar” Kehadiran Hana sungguh menghangatkan hidup ku.

Hari pengumuman penerimaan Mahasiswa sudah datang, aku pergi ke rumah Hana untuk melihat hasilnya bersama. Kami duduk dikasur, mengambil selimut dan membuka laptop. “Semoga kita keterima, Amin!” ucap Hana. kami berdua membuka email dan membuka file pengumuman. “Selamat anda telah di terima di Universitas Jibata” Kami berteriak kegirangan, melompat kesana kemari sambil saling menggengam tangan. Kami sekarang membaca file email secara penuh, Hana mendapatkan bea-siswa penuh, sedangkan aku hanya dapat bea-siswa sebesar 80%. Kami mempersiapkan berkas-berkas yang diperlukan untuk pendaftaran ulang dan kami berdua mencari kost bersama. Kami merantau ke luar kota sehingga kami memperlukan proses yang lama untuk mempersiapkan keperluan sebelum pindah ke kost.

Kami sekarang menjadi Mahasiswa resmi Jibata, aku mengambil jurusan bisnis sedangkan Hana mengambil jurusan kedokteran hewan. Kami belajar sungguh-sungguh untuk menggapai mimpi kita. Karena merantau, aku terbebas dari sumber penderitaan. Aku dan Hana selalu mendapatkan nilai yang bagus, bahkan menjadi mahasiswa top di jurusan kami masing-masing. Semua berjalan baik, hingga pada suatu saat Hana mengalami pusing yang intens setiap pagi. Hana tak pernah memberitahuku, bahkan dia sendiri menganggap itu hanya pusing biasa. Setelah beberapa hari, pusingnya semakin parah. Aku mulai sadar perbedaan pada Hana, aku sering mengingatkannya untuk menjaga kesehatan dan memberinya obat. Namun kondisi Hana semakin parah, ia selalu beranggapan itu hanya efek kecapean. Aku berusaha untuk tidak memikirkannya, aku harap kondisi Hana baik-baik saja. 

Semenjak menjadi mahasiswa, kami menghabiskan seluruh waktu kami untuk belajar. Hana sangat berambisi untuk mendapatkan nilai yang baik, terkadang ia sampai mimisan karena terlalu lama menghabiskan waktu untuk belajar. Aku kerap memarahinya karena tindakannya itu,  aku sungguh khawatir jika ada yang terjadi pada Hana. Hana ingin selalu mempertahankan bea-siswa nya agar ia bisa menabung untuk biaya pendidikan adiknya. Setiap dia memiliki luang waktu, ia akan pergi bekerja sebagai pelayan disuatu restoran. Mimpi Hana adalah ia ingin meningkatkan kualitas hidup keluarganya, baik secara ekonomi maupun mental. Hana ingin menunjukan nikmatnya kehidupan pada semua mahluk hidup.

Pada suatu hari, aku menghabiskan waktu penuh di perpustakaan karena akan ada ulangan. Hana ada di kost sedang beristirahat. Namun, Hana mengalami pusing yang hebat dan kehilangan keseimbangannya. Ia juga menjadi lebih mudah lupa, padahal ia bukanlah tipe orang yang gampang lupa. Hana pergi ke rumah sakit tanpa sepengetahuan ku. Setelah melakukan CT scan, ternyata Hana mengidap penyakit tumor otak ganas. Mendengar ucapan dokter, Hana terdiam akibat rasa kagetnya. Lalu ia memegang erat bajunya “Dok, apa yang perlu saya lakukan agar bisa sembuh?” Dokter mengambil hasil CT scan, lalu berkata “Kami tidak bisa memastikan penyakit ini bisa sembuh atau tidak, terlebih tumor otak sudah mencapai stadium 3. Kami akan usahakan penyembuhan dengan radioterapi dan kemoterapi” Dokter membuat jadwal radioterapi untuk Hana. 

Setelah beberapa terapi, aku mulai menyadari bahwa semakin banyak rambut rontok di kamar. Aku tidak tahu sama sekali apa yang terjadi pada Hana, bahkan ia terlihat tidak berenergi. Dia bilang dia hanya stress akibat belajar, aku hanya bisa mempercayai nya. Setelah memikirkan lebih dalam, Hana memutuskan untuk tidak melanjutkan terapinya. Baginya hidupnya sudah tidak harapan, dan uang tabungan ingin ia simpan untuk adiknya. Sebenarnya ia ingin bertahan agar semua mimpinya terwujud, serta menemani adiknya dan juga aku. Namun takdir berkata lain, Hana hanya bisa menikmati sisa waktu hidupnya dan berusaha mengumpulkan uang sebanyak mungkin untuk adiknya. Walau mengidap tumor ganas, ia tetap berusaha belajar dan mendapatkan nilai baik.

Sebulan kemudian, aku melihat kondisi Hana makin parah. Rambutnya menipis, gerak geriknya lemas. Disisi lain aku terus menerus dihubungi oleh orang tua ku. Saat itu aku sedang di kost bersama Hana, untuk melegakan pikiran aku pergi keluar untuk membeli makan. Aku menaiki mobil ku, lalu pergi ke tempat makan terdekat. Selama perjalanan pikiran ku penuh dengan kekhawatiran pada Hana, serta amarah kepada orang tua ku. Aku tidak bisa fokus selama mengemudi. Tiba-tiba di depan ku ada mobil kencang, aku tidak sempat bereaksi.

Aku berakhir di rumah sakit, kondisi ku tak sadarkan diri. Tak lama Hana datang, ia tampak sangat khawatir. Dokter memberitahu Hana bahwa aku memerlukan transplantasi segera, Hana tanpa berpikir panjang ia lansung bersedia untuk melakukan pendonoran. Lalu segera di lalukan operasi.

Aku pun terbangun, aku melihat diri ku terbaring dikasur rumah sakit. Aku melihat Hana sedang duduk di kasur sebelah ku, mukanya pucat, rambutnya tampak lebih menipis. Ia tersenyum pada ku seolah tidak terjadi apa-apa. “Hana, kok kita ada di rumah sakit?” tanya ku bingung, Hana lalu berdiri disamping kasur ku “Tadi kamu pingsan akibat tabrakan mobil, untungnya kamu gak kenapa-kenapa” lalu Hana memegang tangan ku, meminta ku untuk keluar. Ia mengajak ku ke taman rumah sakit yang menghadap lansung ke lautan. Kami berdua duduk di rumput yang tampak asri. “Liat deh, lautannya tampak indah banget. Aku suka deh liat alam, kaya hidup tuh makin kerasa menyenangkan” Ucap Hana sambil memandangi lautan. Aku menoleh pada nya “Kalo ga ada kamu, pasti aku udah mati dari dulu. Makasih ya, aku jadi bisa ngerasain ini semua” Hana tertawa kecil, ia memegang bahu ku lalu berkata “Aku selalu ingin nunjukin kamu bahwa hidup itu berarti banget, cuman emang kadang banyak yang bikin hidup terasa berat” Kami berdua terdiam sejenak, aku mengingat semua kenangan kami berdua. “Hana, kamu jangan pernah pergi. Aku gabisa tanpa kamu, semua masalah aku lalui karena ada kamu” Lalu Hana berdiri dan menghadap pada ku menjulurkan tangannya dan aku beranjak berdiri. “Kamu jangan bergantungan sama aku, Nara. Kamu pasti bisa sendiri, aku tau kamu orangnya kuat banget. Selama ini kamu bertahan bukan karna aku saja, tapi karna diri mu sendiri juga” mendengar hal itu, aku merasa lebih tenang. Tak lama, matahari mulai tenggelam. Muka Hana yang awalnya girang, sekarang mulai muram namun ia menutupi nya dari ku. Hana kemudian memeluk ku erat, air matanya mengalir membasahi pundak ku. Aku tidak mengerti apa yang terjadi pada Hana. “Tolong lah tetap hidup untuk ku, wujudkan mimpi ku, mimpi mu dan mimpi semua orang yang kamu sayangi. Disuatu saat nanti, kamu bakal ketemu aku lagi. Untuk kali ini, waktu ku sudah habis. Jangan lupakan aku ya, dan pot kehidupan kita” Dada ku tiba-tiba terasa sesak, nafas ku terengah-engah dan air mata ku mengalir tanpa kusadari. Aku tidak mengerti apa yang akan terjadi, namun Hana memeluk ku erat. Kemudian semua hal menggelap dan aku tak sadarkan diri

Aku terbangun lagi di kasur rumah sakit, kali ini ada Hana terbaring pulas disebelah kasur ku. Aku tidak mengingat apa pun yang terjadi, yang ku ingat hanya lah aku terkena kecelakaan mobil. Ternyata kejadian tadi adalah sebuah mimpi, untungnya semua itu tidak benar terjad, aku merasa lega. Tak lama seorang dokter menghampiri ku, aku segera menanyakan kondisi Hana kepadanya. Muka dokter terlihat muram, seakan ada berita buruk yang ingin ia sampai kan. Dada ku kemudian berdetak kencang, aku merasa gugup mendengar apa yang akan dokter katakan. Kemudian dokter memberikan sebuah surat, lalu dokter itu menunggu di pinggir kasur ku.

Aku membuka surat itu, lalu surat itu berasal dari Hana. 

“Untuk Nara, sahabat sejatiku. Hai Nara, kamu udah bangun ya? Aku sungguh khawatir dengan kondisi mu karena kata dokter kamu membutuhkan pendonor Jantung, jadi aku mendonorkan jantung ku untuk mu. Ini aku lakuin juga karena waktu hidup ku memang awalnya sudah tidak lama lagi. Selama ini aku ngidap penyakit tumor otak ganas, maaf ya gapernah cerita. Tapi sekarang kita semua udah tenang, jadi jangan sedih ya. Maaf ya aku gabisa nemenin kamu lagi, kali ini kamu harus melanjutkan mimpi mu sendiri. Aku juga minta tolong, jagain adek ku ya dan bibi. Aku sungguh bersyukur bisa menikmati hidup ku bareng kamu, tolong lanjutkan hidup mu untuk ku ya. Semoga kita bisa bertemu lagi, entah dimana. Aku berjanji diri ku akan selalu ada di dalam dirimu. Love, Hana.”

Air mata ku mengalir sembari membaca surat itu, hati ku penuh kekecewaan. Sungguh rasanya sakit sekali melihat sahabat ku pergi meninggalkan ku. Aku beranjak dari kasur dan berlutut di kasur Hana. Tangis ku pecah, melihat sahabatku terbaring pucat. Ia rela mendonorkan jantungnya untuk ku, dan kali ini aku harus berjuang sendiri. Aku menggenggam tangan Hana yang terasa dingin, ku pegang erat untuk terakhir kalinya. Menyakitkan sekali rasanya pemandangan ini, ternyata mimpi tadi adalah pamitan terakhir Hana untuk ku. Aku tidak pernah terbayang kejadian ini akan terjadi. Seharusnya yang mati itu aku, bukan Hana. Takdir sungguh menukar nasib yang kami inginkan. Aku selalu ingin mati, namun semua ingin aku bertahan hidup. Sedangkan Hana, orang terbaik yang pernah ku temui berakhir meninggal karena penyakitnya. Ia selalu mempunyai harapan tinggi pada hidupnya, ia sungguh menikmati kehidupannya bahkan di waktu-waktu terakhir hidupnya. Aku masih tidak bisa menerima kenyataannya bahwa sahabatku sudah tidak bisa disamping ku lagi. Tak lama ku lihat adiknya datang, lalu ku peluk dia. Kami berdua menangisi Hana, orang yang kami sayangi. Aku tidak pernah menyangka kamu pergi secepat ini, Hana. Aku menenangkan adiknya Hana “Mulai sekarang, aku bakal jagain kamu. Jangan nangis terus ya, nanti kak Hana sedih. Sekarang kak Hana udah ga sakit” Kami  merasa sedih yang luar biasa, namun kami berdua saling menguatkan. Kepergian Hana sangat membuat ku terpukul dan aku sempat sedih beberapa waktu setelah penguburannya. Sekarang aku punya Kiel yang harus ku jaga, dan aku punya permintaan yang harus aku wujudkan. Semua terasa berat, namun akan ku usahakan untuk mu, Hana.

Kematian Hana akan kujadikan makna bahwa hidup itu sangat berarti dan masih banyak mimpi yang bisa ku wujudkan. Beberapa tahun kemudian, aku berhasil menjadi orang yang sukses. Aku menjadi seorang florist, dan aku memiliki banyak cabang usaha. Aku juga menyekolahkan Kiel dan menjaganya selalu. Sekarang aku hidup bersama Kiel dan bibi Hana. Selain itu, aku sudah berdamai  dengan orang tua ku, namun aku masih butuh adaptasi agar bisa akur kembali. Tahun ini, aku berhasil membuat taman bunga. Taman itu ku beri nama “Taman kehidupan”. Taman itu dipenuhi bunga dan pepohonan indah, aku kerap mengunjungi taman itu dan merawatnya dengan baik.

Lalu pada suatu saat, aku sedang mengunjungi taman itu dan memandangi keindahan taman itu. Aku duduk dibawah pohon, tak lama ada seorang pria menghampiri ku dan duduk disebelah ku. Aku menoleh padanya, lalu ia tersenyum “Hidup terasa menyenangkan, ya?” kalimat yang pernah ku dengar dari Hana, aku terdiam sejenak. Pria berkata “Eh, kenapa? ada yang salah?” Aku menjawab segera “Nggak kok, gapapa. cuman keinget sama sesuatu aja” kami berdua pun berkenalan. Seiring berjalannya waktu, aku mulai memiliki perasaan padanya. Kami menjalin hubungan lalu berakhir pada pernikahan. Kami menjalani hidup dengan sangat bahagia, bersama Kiel, bibi Hana, suami ku dan anak, Bunga. Aku memberi nama anak ku bunga karena nama “Hana” artinya adalah bunga. Dan tanpa kusadari, nama “Nara” artinya pohon. Selama ini kita memang ditakdirkan bersama, Hana. Aku harap kamu bahagia melihat ku saat ini. Aku akan selalu mengenang kebaikan mu, semoga kita bertemu kembali dikehidupan selanjutnya.

Selesai.

 




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karya Naskah, Poster, dan Film Drama Kelas XI - A (SMA Ign. Slamet Riyadi Karawang)