Karya Cerpen Siswa SMA Ignatius Slamet Riyadi Karawang

Karya cerpen ini dibuat oleh siswa SMA Ignatius Slamet Riyadi Karawang untuk berkontribusi perlombaan literasi FKKS Karawang.

Tema cerpen “PASSION VS. EKSPEKTASI: JALAN HIDUP GENERSI Z”

Ruang Tunggu 

(Prince Joseph - Kelas XII)

Sebenarnya, apa itu passion? Kenapa selama ini aku merasa seperti dipaksa untuk memilikinya? Jika saja aku bisa menemukannya dengan cepat, tentu aku mau. Sayangnya, hidupku mirip ruang tunggu. Menunggu sesuatu untuk datang, untuk terjadi, untukku.

Apakah egois jika aku berharap kalau passion-ku ini adalah sesuatu yang berharga? Sesuatu yang dapat aku banggakan, sesuatu yang istimewa, sesuatu yang memberikan aku keunikan? Iri rasanya, teman-temanku dengan bakat mereka yang dapat dipamerkan, sedangkan aku dengan ketidakistimewaanku. Apakah ekspektasiku saja yang terlalu tinggi? Terlalu berharap bahwa aku bisa memiliki passion yang membuat orang kagum padaku? Bukannya aku tidak memiliki lingkungan yang mendukung, orang tuaku menyediakan banyak sarana bagiku untuk mencari passion-ku. Berenang, piano, bernyanyi, tenis, melukis, semuanya sudah pernah aku jalani. Tidak ada satupun yang bertahan, atau dapat kukatakan, aku yang tidak bertahan. Awalnya aku tidak terlalu peduli, tapi melihat semua usaha orang tuaku ditambah teman-teman dekatku dengan bakat mereka, bebannya jadi lebih terasa.

 “Duluan ya, Sen!” 

 “Oke, hati-hati, Dit.” 

 Namaku Sena, yang berpisah denganku tadi adalah teman dekatku, Adit.

Sore itu, aku menemaninya latihan kasti di lapangan sekolah kami, karena sebentar lagi dia akan ikut pertandingan. Peranku hanya melempar bola kepadanya dan memungutnya lagi nanti. Kurasa dia memintaku menemaninya karena dia kasihan denganku yang tidak memiliki kegiatan sama sekali. Perjalanan ke rumah terasa hampa, karena sebelumnya suasana penuh dengan ambisi Adit. Namun, ada yang berbeda hari itu. Aku melihat seorang penjual es krim gerobakan yang ceria, hampir terlalu ceria. Tidak biasanya dia ada di jalan ini. Dia sedang melayani anak kecil yang membeli es krim. Aku menghampiri gerobaknya, karena separuh diriku penasaran apa ceritanya.

“Pak, nggak biasanya saya lihat di sini, baru nyoba ke sini Pak?” tanyaku sambil melihat-lihat gerobaknya. 

“Ohh, iya dek, bapak baru pertama kali berjualan di sini, lagi keliling aja, hehe.” 

Aku membuka isi gerobaknya dan terlihat bahwa isinya masih lumayan banyak. 

 “Baru buka, Pak?”

“Engga kok, udah dari pagi, tapi jarang yang beli, Dek.” Aku menyesal bertanya tanpa pertimbangan lebih lanjut, aku merasa bersalah. 

“Tapi nggak apa apa Dek, namanya rezeki, nggak ada yang tahu, udah biasa bapak bawa pulang banyak.”   

Walaupun yang dia katakan sedikit menyedihkan, raut wajahnya terlihat ceria. 

“Tapi, Bapak kelihatan senang. Kok bisa?” 

“Haha, karena seperti kata orang, Dek. Kalau kegiatan yang kita gemari jadi pekerjaan kita, nggak akan terasa seperti pekerjaan.”

“Lho, memang yang Bapak gemari apa?” 

“Bapak suka lihat orang senyum.” 

Suka lihat orang senyum? Memangnya itu sebuah kegemaran? Terdengar seperti kalimat klise yang akan dikatakan seorang tokoh protagonis di animasi anak kecil.  

“Memangnya itu termasuk kegemaran, Pak? Apa tidak terlalu ringan untuk jadi kegemaran?” 

“Hmm, untuk bapak sendiri sih nggak, Dek,” jelas bapak itu sembari merapikan bekas es krim di gerobaknya dengan sebuah lap tua. 

“Kenapa gitu, Pak?” kataku sambil memilih-milih es krim. 

“Karena menurut bapak, kegemaran atau passion kalau buat generasimu, tidak perlu terlalu istimewa. Menurut bapak, selagi yang kamu lakukan itu positif bagi dirimu sendiri dan orang sekitar, kenapa nggak toh?” 

Kalimat terakhir bapak itu menciptakan perasaan yang aneh di dalamku. Apa ini? Lega? Kenapa aku lega? 

“Haha, lucunya saya sendiri tidak punya passion, Pak. Saya rasa sudah terlalu telat untuk saya, Pak. Entah bagaimana nasib karier saya nanti.”

Sepertinya ada sebagian diriku yang tidak percaya pada kata-kata bapak itu. Apakah hal sesimpel itu bisa disebut sebuah kegemaran atau bahkan passion? Kalau memang bisa, apa jadinya para pemilik hobi simpel itu di masa depan nanti? Bagaimana cara mereka menentukkan karier mereka? Di tengah pikiranku yang riuh, bapak itu menepuk pundakku sambil memberikan es krim cokelat.

“Dek, kamu kira semua orang dewasa yang sekarang sudah bekerja, semuanya mengikuti passion mereka dalam pekerjaan mereka?” 

“Oh, saya nggak pernah terpikirkan sih, Pak.” jawabku sambil perlahan menerima es krim itu.   

“Kamu beruntung, Dek. Ingat itu. Kamu yang merasa belum punya passion itu spesial. Kamu itu kanvas yang masih kosong. Kanvas yang masih bisa kamu hias dengan apa saja.” 

Aku? Beruntung?  

Kata-kata bapak itu sedikit mendamaikan otakku. Menenangkan sekali rasanya. Tidak pernah terbayang kalau berbicara dengan bapak tukang es krim yang belum pernah aku temui bisa sangat menyegarkan. Aku tersenyum. 

“Makasih, Pak. Jujur aja, saya rasa kalau saya teruskan berbicara, perkataan saya bakal makin menjijikkan, haha. Tapi, saya benar-benar merasa terbantu.” 

“Makasih juga, Dek.” 

 “Kenapa, Pak?” 

 “Tadi kamu senyum.”  

Aku dan bapak itu tertawa singkat sebelum aku pamit untuk pulang. 

Mungkin bapak itu benar. Aku terlalu memusingkan mencari keunikan dalam diri ini sampai aku lupa apa yang sebenarnya aku suka lakukan. 

Kini, perjalanan pulang tidak sehampa sebelumnya. Langkahku lebih ringan dan udara terasa lebih sejuk. Apakah masalahku langsung terselesaikan hanya karena satu percakapan? Kurasa tidak. Tapi, tidak apa-apa. Karena akan butuh waktu dan kerja keras untuk menemukan passion-ku. Tapi, apapun itu nanti, aku pastikan dia akan kubanggakan. Lagipula, aku sudah terbiasa hidup di dalam ruang tunggu, kan? Namun, yang bisa kuyakini, ruang tunggu kali ini akan lebih menyenangkan. 

Ruang tunggu yang paling kutunggu. 



Vonis Tak Bersuara

(Liucy Florencia Christine H. - Kelas X)

Liora Calista, lulusan hukum cum laude di umur 22 tahun. Berasal dari keluarga hukum terpandang, ia memiliki segudang prestasi dan dikenal sebagai ahli debat. Ayahnya, Alexander Zayn, seorang jaksa terpandang, dan ibunya, Seraphine, seorang pengacara yang mendominasi persidangan.

“Liora, kamu akan meneruskan firma Mama setelah Mama pensiun. Selesai magang ini, kamu akan melanjutkan pendidikanmu di London. Jangan merusak nama “Calista” dengan kegaduhan digital,” ujar Seraphine dengan nada tegas, seolah itu adalah hukum yang tak terbantahkan.

“Berhenti bermain dengan sosial mediamu itu yang hanya membuang waktu. Tidak ada kamus “Influencer” di keluarga kita,” timpal sang Ayah, Alexander Zayn. Larangan dan penentangan itu menjadi aturan tak tertulis di rumah Liora.

Namun di sisi lain, di gudang tua yang disulap menjadi studio darurat, Liora adalah @calisight. Ia senang membuat konten edukasi hukum dan kasus-kasus menarik di TikTok. Di depan kamera dan ring light, Liora merasa bisa menjadi dirinya sendiri. 

Suatu hari, ia mengunggah video "5 Tips Stabilitas Karier". Video itu viral dan mencapai 500K views. Namun, keesokan harinya, akunnya diblokir. Liora pucat. 

Tiba-tiba, Liora membuka pintu dan melihat sang Ibu berdiri di depannya dengan ekspresi marah sambil memegang ponsel. 

“Apa ini, Liora? Mama sudah ingatkan kamu untuk tidak bermain permainan sampah seperti ini lagi!” Seraphine membentak, menunjukkan video Liora yang viral. Wajahnya merah padam, menunjukkan kemarahan yang luar biasa. 

“Pernah kamu berpikir dampak yang akan kamu dapatkan jika kamu melakukan kesalahan di dunia digital? Sama saja kamu merusak nama Calista di depan publik jika begini,” timpal Seraphine. Wajahnya menunjukkan kekecewaan dan kemarahan yang meledak-ledak.

Alexander Zayn menyusul, berdiri dengan tatapan dingin di ambang pintu, “Pilih, Liora. Hukum dan nama Calista atau permainan sia-sia ini. Jika kamu masih membantah `fasilitas kamu akan kami cabut. Kami tidak pernah main-main soal ini.” 

Penentangan itu kini bersifat finansial dan emosional. Liora dihadapkan pada dua pilihan: menuruti orang tuanya atau kehilangan kebebasan hidupnya. Ia dipaksa menghapus semua jejak digitalnya. Walaupun terpaksa setuju, hati Liora memberontak. Jauh di lubuk hati, menjadi influencer masih merupakan mimpinya, dan studio di loteng adalah tempat pelarian terbaiknya.

Liora kembali ke kamar, membuka ponselnya, dan menonton video dari akun favoritnya, @lawyerinbloom yang muncul di beranda TikTok miliknya. Akun anonim tersebut membahas kasus hukum menarik dan menjadi pendorong utama Liora ingin menjadi influencer untuk menginspirasi publik tentang hukum. Dengan larangan keras di rumah, kini impian influencer hanya menjadi angan-angan.

Satu pekan kemudian, Ayah dan Ibu Liora pergi ke luar kota selama empat hari. 

“Liora, mama dan papa akan pergi ke luar kota selama 4 hari. Kamu bisa menggunakan ruang kerja papa jika perlu mengurus dokumen magang,” jelas Seraphine. 

“Iya, Ma,” jawab Liora dengan wajah datar. Sejak pertentangan itu, Liora menjadi lebih diam. Ia selalu menonton @lawyerinbloom sambil berangan-angan bisa seperti idolanya. 

Setelah Seraphine dan Zayn berangkat, Liora membuka laptop untuk mengerjakan tugas magang. Ia mendapat telepon dari atasannya, Kael. 

“Li, tolong print dokumen yang gue kirim, terus send ke kantor.” ucap Kael.

 “Oke kak, gue print dulu. Habis itu gue kirim.” jawab Liora, langsung membuka dan menyiapkan dokumen tersebut. 

Untuk mencetak, ia harus menggunakan ruang kerja sang Ayah karena printer hanya ada di sana. Liora pun segera menuju ruangan itu.

Di meja kerja, laptop kerja Ayahnya yang biasanya dibawa, tergeletak di sana. “Sepertinya tertinggal,” pikir Liora. Ia melihat layar laptop tidak tertutup sepenuhnya. Layar menyala tak sengaja karena tersenggol olehnya. Muncul notifikasi dari nama yang tak asing: @lawyerinbloom, influencer favorit Liora. 

“Ini draft konten hari ini ya.” 

Membaca notifikasi itu, Liora sangat terkejut. Ayahnya yang selama ini menentang dirinya menjadi influencer, ternyata berkomunikasi dengan @lawyerinbloom. Didorong rasa penasaran, untuk pertama kalinya Liora membuka laptop Ayahnya dan folder bernama “Konten LIB”. 

Ia membuka salah satu file audio di dalamnya. Suara yang ia dengar sangat familiar. 

“Larangan bukanlah kebencian terhadap gairah, tapi ketakutan seseorang yang tau persis bagaimana pandangan anonim dapat menghancurkan jubah martabat.”

Liora terdiam. Terkejut mendengar suara ibunya dari rekaman file tersebut. Ia langsung mengerti. Ternyata, ibunya melarang bukan karena tidak mendukung, melainkan karena ingin melindungi Liora dari kejamnya dunia digital. 

Alexander dan Seraphine pernah menangani kasus cyber bullying yang tragis, di mana korbannya mengakhiri hidup. Seraphine sendiri sudah menjadi influencer di dunia digital. Ia tahu betul bagaimana ucapan dan tindakan seseorang dapat menyakiti. Oleh karena itu, ia hanya khawatir dan ingin melindungi Liora dari kejahatan digital.

Liora tidak memberi tahu siapapun tentang penemuan ini. Ia pergi ke loteng, mengambil kamera, dan menyalakan ring light. Ia membuat video, kali ini tanpa menunjukkan identitasnya. Ia membahas filosofi hukum kuno dan relevansinya dengan konflik Gen Z masa kini. 

Untuk pertama kalinya, video Liora disukai oleh @lawyerinbloom. Liora tersenyum. Ia menyadari bahwa larangan kedua orang tuanya selama ini bukanlah tekanan, melainkan wujud kasih sayang. 

Akun anonim Liora semakin dikenal banyak orang. Kini, sama seperti ibunya, Liora menjalankan dua warisan sekaligus, menjadi ahli hukum Calista di siang hari dan pahlawan edukasi di malam hari secara rahasia. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Karya Cerpen Siswa Kelas XI SMA Ignatius Slamet Riyadi Karawang

Karya Naskah, Poster, dan Film Drama Kelas XI - A (SMA Ign. Slamet Riyadi Karawang)